Jumat, 27 Juli 2012

Musafir penghuni Surga



Sebelum diangkat menjadi khalifah, Umar bin Khaththab r.a menafkahi keluarganya dari usaha berdagangnya. Namun, setelah diangkat menjadi khalifah, tidak ada waktu baginya untuk mengurus perdagangannya. Artinya, ia tidak memiliki penghasilan yang dapat digunakan untuk menghidupi keluarganya sehari-hari.

Para sahabat berkumpul untuk menentukan besarnya tunjangan yang akan diberikan kepada Umar r.a. Mereka pun memberi usulan berbeda-beda. Namun, tidak ada pendapat yang cocok di hati Umar r.a. Kemudian Umar r.a melihat Ali bin Abi Thalib r.a hanya diam saja. la pun menanyakan pendapat Ali r.a. tentang besaran tunjangan yang layak baginya, "Bagaimana menurutmu, Ali?"

Ali r.a menjawab, "Ambillah uangyang bisa mencukupi keperluan keluargamu." Pendapat itu sangat menyenangkan hati Umar r.a. Akhirnya, mereka menetapkan uang tunjangan sebesar permintaan Umar r.a sendiri.

Dengan kebebasan Umar r.a. menentukan uang gajinya, apakah ia memanfaatkan peluang itu untuk mengambil harta sebanyak-banyaknya dari Baitul Mal? Ternyata tidak sama sekali. Para sahabat melihatnya, ternyata ia hanya mengambil gaji ala kadarnya hingga kehidupan keluarganya menjadi susah.

Setidaknya itulah pandangan orang lain yang melihat kehidupan keluarga Umar r.a. Namun, Umar r.a. memiliki pendapat lain. la merasa bahagia dengan keadaannya tersebut. Ia tidak kemaruk sehingga memanfaatkan jabatannya untuk mendapat fasilitas kemewahan dari negara, tidak sama sekali.

Melihat kondisi perekonomian khalifah seperti itu, akhirnya para sahabat berkumpul untuk membicarakan tambahan tunjangan bagi Amirul Mukminin yang zuhud tersebut. Mereka merasa tunjangan yang diminta Umar r.a terlalu kecil.

Akan tetapi, bagi mereka yang mengenal karakter Umar r.a sudah bisa memastikan bahwa sang khalifah tidak akan setuju dengan rencana penambahan uang tunjangannya. Kemudian mereka meminta Hafsah r.a., putri kesayangan Umar r.a sekaligus Ummahatul Mukminin (ibu orang mukmin atau para istri Nabi saw.) untuk menyampaikan hal tersebut kepada ayahnya dan melihat reaksinya.

Hafsah r.a pun menyampaikan amanat para sahabat kepada ayahnya. Setelah mendengar usulan itu, bukan main geramnya Umar r.a. Wajahnya memerah mengesankan amarah dan kecewa. Ia bertanya kepada putrinya dengan garang, "Siapa yang berani mengajukan usul seperti itu? Akan saya pukul wajah mereka!"

Dengan rasa ciut, Hafsah r.a mencoba menenangkan, "Tenanglah, Ayahku. Mereka hanya ingin membantumu!"

Umar r.a kembali bertanya, "Hafsah! Selama kau bersama Rasulullah saw., ceritakanlah pakaian terbaik beliau yang ada di rumahmu!"

"Pakaian terbaiknya hanyalah pakaian yang berwarna merah, yang dipakai pada hari Jum'at dan ketika menerima tamu", jawab Hafsah r.a mengingat kehidupan suaminya dulu.

"Lalu, makanan apa yang paling lezat yang pernah dimakan oleh Rasulullah saw di rumahmu?" tanya ayahnya kembali.

Hafsah r.a pun menjawab, "Roti yang dibuat dari tepung kasar yang dicelupkan ke dalam minyak. Pernah aku memberinya roti beroleskan mentega dari dalam kaleng yang hampir kosong. Beliau memakannya dengan nikmat dan membagi-bagikannya kepada orang lain."

"Apa alas tidur yang paling baik yang pernah digunakan Rasulullah saw. di rumahmu?"

"Sehelai kain tebal, yang pada musim panas kain itu dilipat empat sebagai alas tidurnya. Sedangkan, pada musim dingin dilipat dua, separuh sebagai alas, separuh lainnya beliau jadikan selimut," jawab Hafsah r.a kembali.

Merasa puas telah mengingatkan putrinya tentang kehidupan Rasulullah saw, suaminya, Umar r.a berkata, "Sekarang pergilah kepada mereka! Katakan bahwa Rasulullah telah mencontohkan suatu pola hidup dan merasa cukup dengan apa yang ada demi mendapatkan akhirat. Abu Bakar telah melakukan hal yang sama. Diriku dan mereka berdua bagaikan musafir yang menempuh jalan yang sama. Musafir pertama telah sampai ke tempat tujuannya dengan membawa perbekalannya. Begitu pula musafir kedua yang telah mengikuti jejak perjalanan musafir pertama juga telah sampai ke tujuannya. Musafir ketiga kini baru memulai perjalanannya. Jika mengikuti perjalanan musafir sebelumnya, tentu akan bertemu mereka di penghujung jalan. Namun, jika tidak mengikutinya, sudah tentu tidak akan pernah sampai ke tempat mereka."