Kamis, 30 Agustus 2012

KISAH BAYI YG BISA BERBICARA DISAAT AKAN MASUK KEDALAM API

 - Pada zaman dahulu ada seorang raja yang mempunyai tukang sihir. Ketika tukang sihir itu telah menjadi tua, ia berkata kepada raja, "Wahai raja, saya telah tua, untuk itu kirimkanlah kepada saya seorang anak untuk mempelajari ilmu sihir agar nanti bisa menjadi pengganti saya bila saya meninggal." Lalu raja memilih anak (Ghulam) untuk mempelajari ilmu sihir, dan adalah jalan yang dilalui oleh Ghulam ke rumah tukang sihir terdapat rahib (sang kyai jaman dahulu). Ghulam tertarik dengan rahib itu, hingga ia duduk untuk mendengarkan ajaran-ajarannya dan ia merasa puas.

Maka ia selalu terlambat untuk belajar pada tukang sihir, lalu ia dipukulinya. Kemudian ia mengadu kepada sang kyai, lalu sang kyai berkata: "Kalau kamu dipukul tukang sihir, katakan kepadanya bahwa kamu masih disuruh ibumu, dan kalau kamu dimarahi oleh ibumu katakan kepadanya bahwa kamu ditahan oleh tukang sihir, maka hal itu berjalan dengan baik."

Pada suatu hari di jalan raya terdapat ular yang sangat besar, hingga jalan menjadi macet dan orang-orang sama ketakutan, lalu Ghulam maju sambil berkata, "Hari ini saya akan mengetahui, tukang sihirkah yang lebih besar ajarannya atau sang kyai."

Lalu ia mengambil batu dan dilemparkannya ke ular itu seraya berkata: "Ya Allah, jika ajaran sang kyai yang benar daripada ajaran tukang sihir, maka matikanlah ular ini supaya orang-orang bisa berjalan dengan aman." Maka ular itu pun mati dan orang-orang bisa meneruskan perjalanannya.

Hal itu ia ceritakan kepada sang kyai, lalu sang kyai berkata, "Wahai anakku, kini kamu lebih hebat daripadaku, dan kamu akan mendapat ujian yang sangat berat karena kekuatan imanmu, dan besarnya imanmu, maka jika hal itu telah datang, kamu jangan sekali-kali menyebut nama saya."

Suatu ketika ujian itu datang, dimana salah seorang kawan raja ada yang buta; ia telah berobat ke mana saja tetap belum juga sembuh, lalu dia datang kepada Ghulam ia berkata, "Jika kamu dapat menyembuhkan, maka seluruh permintaanmu akan kami penuhi." Ghulam menjawab, "Saya tidak dapat menyembuhkan, yang bisa menyembuhkan hanyalah Allah, kalau tuan mau beriman kepada Allah, maka saya akan berdo'a untuk kesembuhan tuan."

Kuncinya Ghulam menunjukkan keimanannya dan mengajak orang untuk beriman kepada Allah SWT, mentaati Agama Allah SWT

Lalu ia pun beriman kepada Allah, setelah itu Ghulam berdo'a kepada Allah, seketika itu juga mata orang itu menjadi sembuh.

Kemudian orang itu mendatangi raja, lalu kagum kepadanya seraya bertanya:

"Siapakah yang telah menyembuhkan matamu?"
Ia menjawab, "Tuhanku."
Raja bertanya, "Adakah Tuhan selain aku ?"
Ia menjawab, "Tuhanku dan tuhan raja adalah Allah."
Raja itu tetap tidak beriman, dan tunduk kepada hukum Allah SWT sesuai amanahnya dalam kehidupan sebagai penguasa, yang bertanggung jawab kepada rakyat yang dipimpinnya.

Lalu raja memaksa ia meninggalkan kepercayaannya kepada Allah. Tetapi ia menolak. Maka raja menyiksanya dan terus menyiksanya hingga ia menunjukan bahwa yang telah menyembuhkan matanya adalah Ghulam.

Kemudian raja memanggil Ghulam, lalu berkata kepadanya:
"Wahai anakku, sihirmu telah melampaui batas hingga dapat menyembuhkan penyakit buta dan belang."
Ia menjawab, "Saya tidak dapat menyembuhkan apa-apa, sesungguhnya yang dapat menyembuhkan hanyalah Allah."

Maka raja menyiksa dan terus menyiksa hingga ia terpaksa menunjukkan sang kyai, lalu raja memanggil sang kyai itu dan memerintahkan kepadanya agar meninggalkan agamanya, tetapi ia menolak. Dan akhirnya sang kyai digergaji hingga badannya belah menjadi dua.

Lalu raja memerintahkan kepada orang yang telah sembuh dari butannya agar meninggalkan agamanya, tetapi ia menolak, maka ia pun akhirnya digergaji seperti sang kyai. Kemudian giliran Ghulam diperintahkan untuk meninggalkan agamanya, tetapi ia pun menolak, lalu raja memerintah tentara-tentaranya untuk membawa Ghulam keatas bukit dan kalau tetap menolak supaya dilemparkan. Lalu mereka berangkat dan ketika sampai di atas bukit Ghulam berdo'a:

"Ya Allah, peliharalah saya dari kejahatan orang-orang ini."
Tiba-tiba bukit ini bergoncang dan tentara-tentara itu jatuh dari atas bukit, mereka mati.

Maka Ghulam berangkat menghadap raja, lalu ia ditanya oleh raja, "Kemana tentara-tentara yang tadi bersamamu ?"
Ia menjawab, "Allah telah menyelamatkan saya dari kejahatan mereka."

Lalu raja memerintahkan beberapa tentara lainnya untuk membawa Ghulam ke tengah laut dan bila masih tetap menolak untuk dilemparkan ketengah laut. Lalu mereka berangkat dan setelah mereka sampai di tengah laut, Ghulam berdo'a:
"Ya Allah, peliharalah saya dari kejahatan orang-orang ini."
Tiba-tiba datanglah ombak besar hingga perahu terbalik dan mereka tenggelam semuanya, lalu Ghulam kembali menghadap raja, dan ia ditanya :

"Kemana tentara-tentara yang membawamu tadi?"
Ia menjawab, "Allah telah melindungi kami dari kejahatan mereka. Wahai raja, engkau tidak akan bisa membunuh saya melainkan bila raja mau menuruti perintah saya."
Lalu raja bertanya, "Apa perintahmu itu?"
Ia menjawab, "Kumpulkan semua rakyat di alun-alun, lalu ikat saya pada sebuah tiang dan ambilah panahku. Kemudian panahlah aku sambil mengucapkan: Bismillahir Rabbil Ghulam (dengan nama Allah Tuhannya Ghulam). Bila itu engkau lakukan, maka engkau dapat membunuhku."

Maka segeralah raja mengumpulkan semua rakyatnya di alun-alan, lalu ia mengikat Ghulam pada sebuah tiang. Kemudian ia memanahnya dengan panah Ghulam sambil membaca: Bismillahir Rabbil Ghulam, maka panah itu mengenai pelipis Ghulam dan mengucurkan darah segar dari pelipisnya. Lalu ia meletakkan tangannya di atas luka-lukanya, hingga ia mati.

Melihat kejadian yang menakjubkan itu, tiba-tiba rakyat serentak mengucapkan: Amanna bi Rabbil Ghulam (kami beriman kepada Tuhannya Ghulam), sehingga kepercayaan kepada Allah merata kepada semua lapisan rakyat.

Maka seorang pembantu raja berkata kepada raja : "Sesuatu yang tuan takuti kini benar-benar telah menjadi kenyataan, semua rakyat tuan telah beriman kepada Tuhannya Ghulam."

Maka dengan marah segeralah raja memerintahkan untuk membuat parit besar pada setiap persimpangan jalan, lalu dinyalakan api di dalamnya. Kemudian raja memerintahkan kepada pembantu-pembantunya untuk melemparkan ke dalam api tersebut siapa saja yang telah beriman kepada Tuhannya Ghulam.

Maka diantara orang yang telah beriman yang dibakar itu terdapat seorang ibu yang menggendong bayi, ketika ia mau masuk ke dalam api itu, ia menjadi maju mundur karena tak tega anaknya ikut terbakar, dalam keadaan itu tiba-tiba bayi itu dapat berbicara (menasehati ibunya): "Wahai ibu, bersabarlah engkau karena engkau berada di pihak yang benar."

Begitulah mereka yang kekuatan imannya jernih dan mengikuti para Nabi dan Rosul sebagai manusia terbaik disisi Allah SWT, dimana kuncinya adalah sama yaitu :

Kekuatan Imannya terukur dengan kecintaannya menegakkan Agama Allah SWT dalam kehidupannya. Walaupun kepada para Penguasa dimana penyampaian bahwa penguasa yang sebenarnya adalah Allah SWT, penguasalah yang berhak memutuskan segala hukum-hukum Allah SWT.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الأنبياء ثم الأمثل فالأمثل فيبتلى الرجل على حسب دينه فإن كان دينه صلبا اشتد بلاؤه وإن كان

في دينه رقة ابتلى على حسب دينه فما يبرح البلاء بالعبد حتى يتركه يمشى على الأرض ما عليه خطيئة

“Orang yang paling keras ujiannya adalah para nabi, kemudian yang semisalnya dan yang semisalnya, diuji seseorang sesuai dengan kadar agamanya, kalau kuat agamanya maka semakin keras ujiannya, kalau lemah agamanya maka diuji sesuai dengan kadar agamanya. Maka senantiasa seorang hamba diuji oleh Allah sehingga dia dibiarkan berjalan di atas permukaan bumi tanpa memiliki dosa.” (HR. At-Tirmidzy, Ibnu Majah, berkata Syeikh Al-Albany: Hasan Shahih).