Jumat, 04 September 2015

Masalah khilafiyah "Teuku Wisnu"

Ketika seseorang berpindah pemahaman/ Agama bisa disebabkan dua faktor. Pertama karena iming-iming imbalan atau seseorang tersebut memang memiliki suatu tujuan. Yang kedua karena panggilan hati atau karena Hidayah. Di Indonesia ada empat golongan atau organisasi Islam; NU, Muhammadiyah, Salafi dan Jamaah Tabligh. Siapakah yang paling benar di antara mereka berempat tidaklah penting. Yang terpenting Selama 2 kalimat syahadat telah terucap. Al-Qur’an dan Sunnah mereka pegang teguh dan tidak mereka perselisihkan maka mereka adalah Islam.

Lihatlah tata cara shalat subuh. Sebagian dari umat Islam ada yang berqunut dan ada yang tidak. Mereka semua memiliki dalil atas apa yang mereka lakukan. Siapakah yang paling benar? Mereka yang paling benar adalah mereka yang menghormati perbedaan dan tidak merasa dirinya paling benar. Itu adalah masalah khilafiyah. Untuk masalah ini tidak boleh seorang pun memaksa untuk mengikuti pendapatnya. Akan tetapi yang dilakukan adalah sampaikanlah hujjah dengan alasan ilmiah. Jika telah terang salah satu dari dua pendapat yang diperselisihkan, ikutilah. Namun untuk pendapat yang lain tidak perlu diingkari (dengan keras).”

Baru baru ini kita dihebohkan dengan Perkataan seorang Artis yang bernama Teuku Wisnu. Banyak yang bilang artis tersebut baru tau agama atau baru tumbuh jenggot tapi sudah sembarangan bicara. Sesuatu yang sangat tidak logis. Karena tidak ada bedanya apa yang ia katakan tentang membaca Al-Fatiha untuk mayit itu bid’ah dengan apa yang kita katakan tentang membaca Al-Fatiha untuk mayit itu dianjurkan. Lihat ketika ia berkata Al-Fatiha untuk mayit bid’ah, itu sudah jelaskan mengganggu kita. Dan begitu pula sebaliknya ketika kita mengatakan membaca Al-Fatiha untuk mayit itu dianjurkan juga mengganggu Ia dan orang-orang yang sepaham dengannya. Namun mereka tidak mencaci apa yang kita katakan. Ia hanya mengingkari, sementara kita justru menyerangnya. Seolah-olah kitalah yang paling benar dan yang lainnya salah. Toh bukankah bid’ah dalam ajaran Nu ada dua. Bid’ah hasanah dan bid’ah dholalah.

dan lagi dengan jiwa ksatria Teuku Wisnu meminta maaf atas kebodohannya dan kekurangan ilmunya. sebuah permintaan maaf yang sangat pintar. karena pada hakikatnya kita ini semua juga bodoh dan masih banyak yang belum kita ketahui, namun karena keangkuhan kitalah kita menjadi merasa pintar.


Bagi saya Islam itu satu. Selama 2 kalimat syahadat telah terucap. Al-Qur’an dan Sunnah mereka pegang teguh dan tidak mereka perselisihkan maka tidak ada namanya NU, Muhammadiyah, Salafi dan Jamaah Tabligh yang ada hanyala Islam. Perbedaan hanyalah perbedaan bukan perpecahan.