Minggu, 02 September 2012

KISAH SINGKAT KULAFAUR RASYIDIN

Abu Bakar Ash-Shiddiq

Nama lengkapnya Abdullah bin Dustman bin Air bin Ka’ab At-Taimi Al-Qurasyi. Sebelum masuk Islam ia bernama Abdul Ka’bah, lalu Rasulullah menamainya Abdullah. Ia digelari Ash-Shiddiq (yang membenarkan), biasa di panggil Abu Bakar. Selain itu, ia juga digelari Al-Atiq’ (yang dibebaskan).
Ia lahir di Makkah dua tahun beberapa bulan setelah kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Ia berkulit putih, kurus, matanya cekung, badangnya bungkuk, rambutnya lebat, dan suka menyemir rambutnya dengan bahan pewarna al-hinna dan katam.
Seorang laki-laki tua dari suku Al-Azd, Yaman, pernah menyampaikan kepada Abu Bakar berita tentang dekatnya waktu akan diutusnya Nabi akhir zaman. Ia adalah orang pertama yang menolong dan membenarkannya. Berita yang sama pernah disampaikan oleh Waraqah ibn Naufal kepadanya.
Abu Bakar adalah laki-laki pertama yang beriman kepada Rasulullah. Tentang keislamannya, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Tidak kuajak seorangpun masuk islam melainkan ia ragu dan bimbang, kecuali Abu Bakar, ia tidak ragu dan bimbang ketika kusampaikan kepadanya”. (HR. Ibnu Ishaq).
Abu Bakar adalah salah satu di antara sepuluh sahabat yang memperoleh jaminan masuk syurga. Ia pernah memerdekakan tujuh orang budak dan mereka semua pernah di siksa karena memperjuangkan Islam. Mereka adalah Bilal, Amir ibn Fuhairah, Zunairah, Nahdiyah dan putrinya, Jariyah binti Mu’ammil dan Ummu Ubays.
Suatu hari, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya kepada para sahabat, “Siapa diantara kalian yang berpuasa pada hari ini?” “Saya”, jawab Abu Bakar. “Siapa di antara kalian yang mengiringi jenazah pada hari ini?” tanya Beliau. “Saya”, jawab Abu Bakar. “Siapa di antara kalian yang memberi makan fakir miskin pada hari ini?” tanya Beliau. “Saya”, jawab Abu Bakar. “Siapa di antara kalian yang menjenguk orang sakit pada hari ini?” tanya Beliau. “Saya”, jawab Abu Bakar. Rasulullah lalu Bersabda, “Tidak terangkum semua hal tersebut pada diri seseorang, melainkan ia akan masuk Syurga.” (HR. Muslim).
Dari hadits di atas, dapat di ambil pelajaran bahw0a orang yang dijamin masuk syurga adalah :
  1. Orang yang dalam hidupnya selalu menjalankan puasa sunnah yang diteladankan oleh Rasulullah SAW selain puasa wajib.
  2. Orang yang ketika mendengar atau melihat saudara seimannya dalam keadaan sakit, ia segera menjenguk dan mendo’akannya agar diberi kesembuhan.
  3. Orang yang ketika mendengar atau melihat saudara seimannya meninggal segera merawat jenazah tersebut mulai dari memandikan, menshalatkan dan mengantarkan ke tempat kubur.
  4. Orang yang selalu menafkahkan sebagian hartanya untuk fakir dan miskin.
Abu Bakar digelari Ash-Shiddiq karena ia membenarkan peristiwa Isra’. Tentang Abu Bakar, Nabi pernah mengatakan, “Sesungguhnya tidak ada seorangpun di antara manusia yang sanggup berkorban dengan diri dan hartanya karena aku selain dari Abu Bakar ibn Abi Quhafah. Sekiranya aku ingin mengambil seorang kekasih, aku akan mengambil Abu Bakar sebagai kekasihku. Akan tetapi persaudaraan Islam lebih utama. Hendaklah kalian menutup semua pintu yang ada di masjid ini kecuali pintu Abu Bakar.” (HR. Bukhari).
Rasulullah mempersaudarakan Abu Bakar dengan Kharijah bin Zuhair. Ia pernah mengatakan, “Seandainya satu kaki saya berada di dalam surga dan yang satunya lagi berada di luarnya, berarti aku belum aman dan tipu daya terhadap Allah.”
Ayat berikut diturunkan berkaitan dengan Abu Bakar. Allah berfirman, “Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka.” (Al-Lail : 17).
Ia adalah teman setia Rasulullah dalam perjalanan hijrah dan yang menemani Beliau ketika berada di Gua Tsur. Abu Bakarlah yang di maksud dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut, “Dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua”. (At-Taubah: 40).
Ia tidak pernah absen mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah. Abu Bakar adalah amir yang pertama kali haji dalam Islam dan orang yang pertama menjadi imam shalat pasca wafatnya Nabi.
Setelah Nabi wafat, kaum muslimin mengalami kegoncangan. Abu Bakar dengan tegas mengatakan, “Barangsiapa di antara kalian yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah mati. Dan barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup, tidak mati.” Allah telah meneguhkan hati kaum muslimin berkat pernyataan ini.
Pada tahun 11 H, kaum muslimin memilihnya menjadi pengganti (khalifah) pertama Rasulullah. Pidato politik pertamanya setelah di angkat menjadi khalifah berbunyi, “Aku di angkat menjadi pemimpin kalian, bukan berarti aku orang yang terbaik dari kalian. Kalau aku memimpin dengan baik, maka bantulah aku. Jika aku salah, maka hendaklah kalian meluruskanku. Kejujuran adalah amanat dan kebohongan adalah khianat. Orang lemah di antara kalian adalah orang kuat menurut pandanganku sampai aku menunaikan apa yang menjadi haknya. Orang kuat di antara kalian adalah orang lemah menurut pandanganku hingga aku mengambil hak darinya.”
Tatkala Abu Bakar meninggal, Ali bin Abi Thalib berujar, “Semoga Allah mengasihimu, wahai Abu Bakar. Anda adalah teman akrab Rasulullah, dan sahabatnya yang diajak bermusyawarah. Anda adalah laki-laki pertama yang masuk islam, orang yang paling tulus imannya, orang yang paling baik yang menemani Rasulullah, yang paling banyak kebaikannya, yang paling mulia di masa lalu, yang paling mulia kedudukannya, yang paling tinggi derajatnya, dan yang paling mirip dengan Rasul dalam hal petunjuk dan jalannya. Allah menamaimu dalam kitab-Nya dengan nama Shiddiq (yang membenarkan). Allah berfirman, “Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Az-Zumar : 33). Orang yang membenarkan ialah Muhammad dan yang membenarkan ialah Abu Bakar. Anda adalah orang yang paling dermawan di kala orang lain bersifat kikir. Anda telah menemani Nabi menghadapi berbagai kesulitan di kala orang lain berdiam diri. Anda telah menemani Nabi dengan setia di masa-masa kritis dan menggantikan Beliau (Khalifah) dengan baik dan menjalankan khilafah dengan baik.”

Umar bin Al-Khatab

Nama lengkapnya Umar bin Al-Khathab bin Nufail bin Abdul Uzza Al-Quraisy, biasa di panggil Abu Hafs dan digelari Al-Faruq (pemisah antara yang hak dan yang batil). Ia adalah sosok yang terkenal cerdas dan paling keras wataknya di kalangan pemuda Quraisy. Ia pandai membaca dan menulis. Pada masa Jahiliyah, ia selalu menjadi utusan, menjadi duta besar, dan menjadi kebangaan kaum Quraisy.
Sebelum masuk Islam, ia adalah orang yang sangat memusuhi orang-orang Islam, sampai-sampai ada orang yang pernah berujar, “Seandainya keledai milik Umar masuk Islam, maka Ibnul Al-Khathab sekali-kali tidak akan masuk Islam.”
Umar masuk Islam pada tahun ke enam pasca kenabian. Ia berada di urutan ke-40 dari orang-orang yang mula-mula masuk Islam. Tatkala ia mengetahui kabar tentang Fatimah–Saudara perempuannya – masuk Islam, ia langsung menemuinya. Di rumah Fatimah, ia menjumpai Khabbab bin Art dan Sa’id–suami Fatimah–sedang mengajari Fatimah membaca Al-Qur’an, maka Umar pun langsung memukul Fatimah. Fatimah menolak memberikan mushaf kepada Umar kecuali ia bersuci terlebih dahulu. Umar pun langsung mandi dan membaca mushaf tersebut. Yang pertama kali dibacanya adalah awal surat Thaha. Allah melapangkan hati Umar dengan bacaan tersebut, lalu ia langsung pergi ke Darul Arqam dan mengikrarkan diri masuk Islam di hadapan Rasulullah SAW.
KeIslaman Umar merupakan bukti dari kecintaan Allah dan pemuliaan-Nya terhadap Umar, di mana Allah mengabulkan do’a Rasul-Nya, “Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan salah satu dari kedua orang yang paling Engkau cintai, dengan Abu Jahal atau Umar bin Al-Khathab.” (HR. At-Tirmidzi).
Tentang Umar, Nabi SAW mengatakan, “Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran pada lidah dan hati Umar.” (HR. At-Tirmidzi).
Nabi juga mengatakan, “Sesungguhnya pada umat-umat sebelum kalian ada orang-orang tertentu yang menjadi juru bicara (muhaddits), dan jika hal itu ada pada umatku, niscaya ia adalah Umar bin Al-Khathab.” (HR. Al-Bukhari).
Nabi pernah mengatakan kepada Umar, “Demi jiwaku yang berada di genggaman-Nya, sesungguhnya syetan sama sekali tidak akan membiarkanmu berjalan di suatu jalan, melainkan dia akan berjalan di jalan selain jalan yang kamu lewati.” (HR. Bukhari).
Pendapat-pendapat Umar berjalan sejalan dengan kehendak Al-Qur’an dalam lima masalah, yaitu:
  1. Ia pernah mengusulkan untuk membunuh tawanan perang Badar dan tidak menerima tebusan dari mereka, lalu turun ayat Al-Qur’an yang menguatkan pendapatnya.
  2. Ia pernah menyampaikan agar isteri-isteri nabi memakai hijab (tabir), lalu turun ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengannya.
  3. Ia pernah menyampaikan kepada Nabi agar Beliau tidak menshalati jenazah orang-orang munafik, lalu turun ayat Al-Qur’an yang melarang Nabi untuk menshalati jenazah mereka.
  4. Ia berpendapat untuk menjadi maqam Ibrahim sebagai tempat shalat, lalu turun ayat Al-Qur’an yang menyuruh kaum muslimin untuk shalat di tempat tersebut.
  5. Ketika isteri-isteri Nabi berkumpul karena cemburu terhadap sikap Nabi, ia mengatakan kepada mereka, “Jika Nabi menceraikan kalian, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya isteri-isteri yang lebih baik dari kalian. Setelah itu, turunlah surat At-Tahrim yang di dalamnya terdapat ayat-ayat yang menegaskan hal tersebut.
Ia tidak pernah absen mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah SAW. Suatu hari, ia bersama beliau di puncak gunung Uhud. Bersama mereka Abu Bakar dan Utsman. Tiba-tiba gunung Uhud berguncang, lalu Nabi berkata, “Tenanglah gunung Uhud, di atasmu ada Nabi, Shiddiq (Abu Bakar), dan dua orang saksi (maksudnya Umar dan Utsman). (HR. Al-Bukhari).
Meski Umar orang yang berkarakter keras, tapi kalau mendengar bacaan Al-Qur’an, ia sering jatuh pingsan karena saking takutnya. Ia langsung jatuh pingsan ketika mendengar firman Allah, “Dan jelaslah bagi mereka adzab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.” (Az-Zumar: 47). Pada kesempatan lain, ia juga jatuh pingsan ketika mendengar firman Allah, “Pada hari ketika manusia berdiri menghadap Tuhan semesta alam.” (Al-Muthaffifin: 6).
Umar adalah sosok pemimpin yang mengasihi rakyatnya, dan terkenal tegas kepada para pembantunya. Untuk hal ini, ia menyusun sebuah undang-undang Min Aina Laka Hadza? (Dari mana kamu peroleh harta ini?).
Umar pernah mengatakan, “Aku telah berjanji pada diriku sendiri, bahwa aku tidak akan memakan samin dan daging hingga seluruh kaum muslimin kenyang memakan keduanya.”
Ia juga pernah mengatakan “Dosa lebih ditakuti seorang prajurit ketimbang musuh.” Pada kesempatan lain, ia mengatakan, “Hisablah dirimu sebelum kamu sekalian di hisab dan timbanglah dirimu sebelum kamu sekalian di timbang. Sebab, besok hisab akan lebih ringan bagi kamu kalau hari ini kamu menghisap dirimu. Dan bersiap-siaplah kamu sekalian menghadapi hari paling agung, di mana pada hari itu kamu dihadapkan kepada Tuhanmu, tiada satupun dari keadaanmu yang tersembunyi bagi Allah.”
Selain hal-hal di atas yang pernah di lakukan oleh Umar, ada beberapa masalah lain yang pernah di gagas dan laksanakannya sebagai seorang khalifah, yaitu :
  1. Orang pertama yang menetapkan tahun hijriah sebagai kalender Islam dan orang pertama yang dijuluki sebagai amirul mukminin (pemimpin orang-orang yang beriman).
  2. Orang pertama yang mengumpulkan orang-orang dalam shalat tarawih, menyinari masjid-masjid di malam bulan Ramadhan, mengumpulkan orang-orang untuk shalat jenazah dengan empat takbir, menghentikan pemberian zakat kepada orang-orang yang baru masuk Islam (al-mu’alafah qulubuhum) berdasarkan hasil ijtihadnya bahwa kausa hukumnya (‘illah-nya) telah hilang, memberikan hadian kepada para penghapal Al-Qur’an, menjadikan urusan pengangkatan khalifah di tangan beberapa orang tertentu, menjadikan talak tiga dengan satu lafal menjadi talak ba’in, memerintahkan untuk menceraikan wanita ahli kitab dan melarang untuk menikahi mereka, menghukum orang yang mengejek, mengambil zakat kuda, menjadikan pajak dalam beberapa tingkatan sesuai dengan kemampuan ekonomi rakyat, menggugurkan wajib pajak dari orang-orang miskin, ahli dzimmah, dan kaum papa, mendirikan pangkalan-pangkalan militer, menginstruksikan wajib militer, membuka kantor administrasi militer, mengkhususkan tenaga medis, hakim, dan juru dakwah bagi para prajurit, mendirikan baitul mal untuk kaum muslimin, mencetak mata uang Dirham, menetapkan pemberian khusus bagi setiap bayi yang lahir dalam Islam, memberikan belanja kepada anak pungut yang di ambil dari baitul mal, mengaudit kekayaan para pejabat dan pegawai negara dan mengundangkan undang-undang “min aina laka hadza?” (Dari mana asal harta ini?), menyuruh untuk membunuh sekelompok orang yang bersekongkol membunuh satu orang, menyuruh untuk membunuh wanita yang berprofesi sebagai dukun (paranormal), dan orang pertama yang mencambuk orang yang memalsukan stempel resmi negara.
  3. Ia meriwayatkan 527 hadits dari Nabi. Di antaranya, Nabi Bersabda, “Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu tergantung pada niatnya. Dan yang dianggap bagi setiap orang adalah apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang niat hijrahnya untuk dunia (kekayaan) yang akan di dapat atau wanita yang akan di kawin, maka hijrahnya itu terhenti pada niat hijrah yang ia tuju.” (HR. Al-Bukhari).
Ia menjabat sebagai khalifah selama 10 tahun 6 bulan 4 hari. Sebelum meninggal, ia pernah bermimpi seolah-olah seekor ayam jago mematuknya satu atau dua kali. Patukan yang pertama adalah pertanda datangnya ajalnya.
Umar meninggal tahun 23 H akibat ditikam dengan sebelah pisau dari arah belakang saat ia sedang menunaikan shalat subuh oleh Abu Lu’lu Fairuz Al-Farisi Al-Majusi, pembantu Mughirah ibn Syu’bah. Tiga hari setelah kejadian itu, Umar menghembuskan nafasnya yang terakhir.


Utsman bin Affan

Nama lengkapnya Utsman bin Affan bin Abi Ash bin Umayyah bin Abd Syams b in Abd Manaf, biasa di panggil Abu Abdillah dan digelari Dzu An-Nurain (pemilik dua cahaya). Ia lahir di Makkah lima tahun sesudah kelahiran Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam atau lima tahun setelah peristiwa pasukan gajah yang menyerang Ka’bah.
Ia mengikrarkan diri masuk Islam di hadapan Nabi setelah ia di ajak masuk Islam oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ia termasuk salah satu di antara sepuluh orang yang mendapat jaminan masuk syurga dan termasuk salah satu dari juru tulis wahyu (Al-Qur’an). Ia ikut shalat menghadap dua kiblat dan ikut berhijrah dua kali. Ia juga mengikuti semua peperangan bersama Nabi, kecuali perang Badar. Saat itu, ia merawat isterinya, Ruqayyah binti Rasulullah, yang sedang sakit keras.
Ia digelari Dzu An-Nurain (pemilik dua cahaya), karena ia menikahi 2 (dua) putri Rasulullah SAW. Ia menikahi Ruqayyah, kemudian menikahi Ummu Kultsum setelah Ruqayyah meninggal. Ketika Ummu Kultsum meninggal, Rasulullah mengatakan kepadanya, “Seandainya kami memiliki tiga, niscaya kami akan menikahkan dia kepada Anda.”
Ia adalah sosok yang terkenal pemalu. Suatu hari, Rasulullah tidur terlentang sedang kedua betisnya terbuka. Abu Bakar dan Umar meminta izin masuk dan Beliau tetap dalam posisinya dan membiarkan betisnya tetap terbuka. Tatkala Utsman minta izin masuk, Beliau langsung menutup betisnya sambil mengatakan, “Bagaimana aku tidak merasa malu kepada orang yang malaikat saja malu kepada dia.” (HR. Muslim).
Ia juga sosok yang terkenal sangat dermawan. Bahkan, ia pernah menanggung semua perlengkapan separuh dari pasukan kaum muslimin dalam perang Al-Asrah. Saat itu, ia mendermakan 300 ekor onta dan 50 ekor kuda lengkap dengan segala peralatannya. Kemudian ia datang membawa 1000 dinar dan memberikannya di hadapan Rasulullah. Saat itu, Rasulullah SAW mengatakan, “Mudah-mudahan sesudah ini ada lagi yang dilalukan Utsman.” (HR. At-Tirmidzi). Ia juga pernah membeli sebuah sumur Raumah dari seorang warga Yahudi. Setelah itu, ia mewakafkannya. Kaum muslimin memanfaatkan sumur tersebut sebagai sumber air minum.
Tentang Utsman, Abu Hurairah mengatakan, “Utsman bin Affan telah membeli syurga dari Rasulullah sebanyak dua kali, Pertama, saat ia melengkapi peralatan pasukan perang Al-‘Asrah (Tabuk), Kedua, saat ia membeli sumur Raumah.” (HR. Al-Hakim dan Ibn ‘Asakir).
Utsman adalah orang yang sangat takut terhadap azab Allah SWT, sampai-sampai ia pernah mengatakan, “Seandainya aku berada di antara syurga dan neraca, lalu aku tidak tahu ke mana aku akan di suruh masuk, maka aku akan memilih menjadi abu sebelum aku tahu ke mana aku akan dimasukkan.”
Rasulullah SAW telah memberitakan Utsman akan masuk syurga. Beliau juga memberitakan bahwa Utsman akan menghadapi fitnah dan ia akan terbunuh secara zalim. Ia senantiasa bermunajat agar diberi kekuatan untuk bersabar menghadapi fitnah tersebut.
Pada masa pemerintahannya, harta berlimpah, sampai-sampai ia pernah mengutus budak perempuan untuk menimbangnya. Ia juga sering menunaikan ibadah haji.
Ia adalah orang pertama yang mendahulukan khotbah dalam shalat ied dan menambah adzan pada shalat Jum’at.
Ia meriwayatkan 146 hadits dari Nabi. Di antaranya, Rasulullah bersabda, “Siapa di antara hamba yang mengucapkan di setiap pagi, petang dan malam hari, “Dengan menyebut nama Allah yang tidak ada sesuatupun yang memberi madharat bagi nama-Nya, baik di bumi maupun di langit, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” niscaya tidak akan ada sesuatu pun yang mendatangkan mudharat kepadanya.” (HR. At-Tirmidzi).
Ia pernah bermimpi bertemu Rasulullah pada malam kesyahidannya. Ia mengatakan, “Aku bermimpi bertemu Rasulullah, Abu Bakar dan Umar. Mereka mengatakan kepada saya, “Anda akan berbuka puasa bersama kami malam ini.” (HR. Ahmad)
Abdullah bin Saba’ pernah mengorganisir sekelompok pemberontak untuk menggulingkan Utsman. Alasan mereka, Utsman melakukan praktek nepotisme dan mendudukkan kaum kerabatnya di pemerintahan. Pada hakekatnya, orang yang di angkat Utsman adalah orang yang pantas menduduki jabatan tersebut. Mereka akhirnya membunuh Utsman saat ia sedang membaca               Al-Qur’an di rumahnya pada pagi hari raya ‘ied al-adha.
Ia meninggal tahun 35 H dalam usia 82 tahun. Ia memangku jabatan khalifah selama 12 tahun.


Ali bin Abi Thalib

Nama lengkapnya adalah Ali bin Abi Thalib ibn Abdul Muthalib ibn Hasyim Al-Qurasyi Al-Hasyimi, biasa di panggil Abu Hasa. Rasulullah memanggilnya Abu Turab.
Ali adalah putra paman Nabi. Ia sama sekali tidak tercemari dengan noda-noda jahiliyah. Ia adalah anak kecil yang mula-mula masuk Islam, tepatnya dua hari setelah Rasulullah SAW menerima wahyu. Saat itu, ia baru berusia 10 tahun. Ia adalah pertama yang mengorbankan dirinya demi memperjuangkan agama Islam.
Ia termasuk salah satu di antara sahabat yang diberitakan Nabi masuk syurga. Ia pernah ditugaskan untuk membawa panji Rasulullah dalam berbagai peperangan. Rasulullah juga pernah mendelegasikannya untuk membacakan surat Al-Bara’ah di hadapan kaum muslimin pada musim haji tahun 9 H.
Setelah turun firman Allah, “Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya), “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (Ali Imron : 61), Rasulullah langsung mendo’akan Ali, Fatimah, hasan, dan Husein, dan berkata, “Ya Allah, mereka semua adalah keluargaku.” (HR. Muslim)
Rasulullah pernah berdo’a untuk Ali, “Ya Allah, tetapkanlah lisannya dan bimbinglah hatinya.” (HR. Ahmad At-Tirmidzi).
Pada saat perang Khaibar, Rasulullah mengatakan di hadapan para sahabat, “Besok panji akan kuserahkan kepada orang yang di tangannyalah Allah memberi kemenangan; ia mencintai Allah dan Rasul-Nya; dan Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya.” Mendengar ucapan beliau, para sahabat memperbincangkan siapa gerangan orang yang akan diserahi panji oleh beliau. Mereka semua mengharap dirinya menjadi orang yang diserahi panji tersebut. Pagi harinya, Nabi bertanya, “Dimana Ali?” “Ali sedang sakit mata,” jawab mereka. Beliau menyuruh untuk memanggil Ali. Setelah Ali datang, Beliau mengusapkan tangan Beliau ke mata Ali sambil mendo’akan kesembuhannya. Ali benar-benar sembuh seolah ia tidak pernah sakit mata. Kemudian beliau menyerahkan panji kepadanya.” (HR. Al-Bukhari).
Tentang Ali, Imam Ahcmad berkata, “Tidak diriwayatkan dari salah seorang sahabat tentang fadlilah yang diriwayatkan dari Ali.”
Ia memangku jabatan sebagai khalifah tahun 35 H setelah kematian ustman di tangan para pemberontak.
Ali pernah mengatakan, “Takwa adalah rasa takut kepada Yang Maha Luhur; mengamalkan Al-Qur’an; rela atas pemberian-Nya yang sedikit; dan mempersiapkan bekal untuk hari akhir.”
Ia juga pernah mengatakan, “berbicaralah kepada orang lain sesuai dengan kadar/tingkat pengetahuan mereka. Apakah kamu ingin ia mendustakan Allah dan Rasul-Nya?”
Ia meriwayatkan 586 hadits dari Nabi. Di antaranya, ia berkata, “Pada saat perang Al-Ahzab, Rasulullah mengatakan, “Allah memenuhi rumah dan kuburan mereka dengan api. Mereka telah melalaikan kita untuk menunaikan shalat ‘ashar hingga mentari terbenam.” (HR. Al-Bukhari).
Ia meninggal di Kufah saat ia sedang keluar rumah untuk menunaikan shalat subuh pada tanggal 17 Ramadhan 40 H dalam usia 63 tahun. Ia meninggal akibat tebasan pedang Abdurrahman ibn Muljam, salah seorang tokoh khawarij.