Tampilkan postingan dengan label kisah mualaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah mualaf. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 September 2012

Penelitian tentang Masa Iddah Perempuan, Membuat Pakar Genetika Yahudi ini Masuk Islam

Penelitian tentang Masa Iddah Perempuan, Membuat Pakar Genetika Yahudi ini Masuk Islam
Written By revival.Islamic on 2 September 2012 | 05:29


Seorang pakar genetika Robert Guilhem mendeklarasikan keislamannya setelah terperangah kagum oleh ayat-ayat Al-Quran yang berbicara tentang iddah (masa tunggu) wanita Musl imah yang dicerai suaminya seperti yang diatur Islam.Guilhem, pakar yang mendedikasikan usianya dalam penelitian sidik pasangan laki-laki baru-baru ini membuktikan dalam penelitiannya bahwa jejak rekam seorang laki-laki akan hilang setelah tiga bulan.


Guru besar anatomi medis di Pusat Nasional Mesir dan konsultan medis, Dr. Abdul Basith As-Sayyid menegaskan bahwa pakar Robert Gelhem, pemimpin yahudi di Albert Einstain College dan pakar genetika ini mendeklarasikan dirinya masuk Islam ketika ia mengetahui hakikat empiris ilmiah dan kemukjizatan Al-Quran tentang penyebab penentuan iddah (masa tunggu) perempuan yang dicerai suaminya dengan masa 3 bulan.
Ia menambahkan, pakar Guilhem ini yakin dengan bukti-bukti ilmiah. Bukti-bukti itu menyimpulkan bahwa hubungan persetubuan suami istri akan menyebabkan laki-laki meninggalkan sidik (rekam jejak) khususnya pada perempuan. Jika pasangan ini setiap bulannya tidak melakukan persetubuhan maka sidik itu akan perlahan-lahan hilang antara 25-30 persen. Setelah tiga bulan berlalu, maka sidik itu akan hilang secara keseluruhan. Sehingga perempuan yang dicerai akan siap menerima sidik laki-laki lainnya.

Bukti empiris ini mendorong pakar genetika Yahudi ini melakukan penelitian dan pembuktian lain di sebuah perkampungan Afrika Muslim di Amerika. Dalam penelitiannya ia menemukan bahwa setiap wanita di sana hanya mengandung dari jejak sidik pasangan mereka saja. Sementara penelitian ilmiah di sebuah perkampungan lain di Amerika membuktikan bahwa wanitanya yang hamil memiliki jejak sidik beberapa laki-laki dua hingga tiga. Artinya, wanita-wanita non Muslim di sana melakukan hubungan intim selain pernikahan yang sah.

Yang mengagetkan sang pakar ini adalah ketika dia melakukan penelitian ilmiah terhadap istrinya sendiri. Sebab ia menemukan istrinya memiliki tiga rekam sidik laki-laki alias istrinya berselingkuh. Dari penelitiannya, hanya satu dari tiga anaknya saja berasal dari dirinya. Setelah penelitian-penelitian yang dilakukan ini akhirnya meyakinkan sang pakar Guilhem ini memeluk Islam. Ia meyakini bahwa hanya Islamlah yang menjaga martabat perempuan dan menjaga keutuhan kehidupan social. Ia yakin bahwa wanita Muslimah adalah wanita paling bersih di muka bumi ini.

Jumat, 13 Juli 2012

kisah mualaf "Mustafa Davis"

Senyum Tulus Orang Asing Jadikan Mustafa Davis Muslim dalam Tiga Hari

kisahmuallaf.com – Lima belas tahun lalu ,ketika Mustafa Davis tengah dalam perjalanan menuju kampusnya, ia berlari ke arah pria berwajah ramah. Si pria menunjuk ke arah kaus oblong yang ia kenakan dan berkata, “Penampilan bagus” lalu berdiri dan menjabat tangannya.
Saat itu Davis ingat betul mengenakan kostum kombinasi kaos dari Haile Selassie, celana jeans baggy yang sangat kedodoran, sepatu Puma, kaca mata hitam dan jacket pemain snowboard merek Session. Ia dulu adalah salah satu penganut serius aliran campuran hip-hop dan skater dari California Bay Area.
Bahagia karena mengenal kostum ala rasta yang dikenakan Davis, lelaki tadi berkata lagi, “Hei saya pikir saya mengenalmu, kita bertemu di sebuah tempat, Nama saya Whitney Canon (kini lelaki itu bernama Usama Canon). Ia merespon pula dengan hangat dan mereka terlibat dalam obrolan dan akhirnya saling menyadari bahwa mereka mengenal teman yang sama. “Pertemuan ini akan menjadi satu dari dua peristiwa acak paling penting dalam hidup saya,” ujarnya.
Mustafa Davis dilahirkan dari keluarga Katholik dengan ayah Afrika-Amerika dan ibu Kaukasia. Orangtuanya bercerai ketika ia masih remaja. Suatu saat ia pernah tinggal bersama ayahnya yang meski miskin namun memiliki harga diri tinggi.
“Saya ingat ketika ayah tak memiliki uang untuk mempertahankan flatnya, kami pun harus hidup di luar. Saat tak mendapat jatah menginap di panti sosial kami terpaksa tidur di taman. Tapi ayah saya selalu bilang. ‘Kita bukan gelandangan nak, maka kita tidak tidur sebagai gelandangan,’” tutur Mustafa menirukan ucapan ayahnya.
Ayah Davis tidur di bangku taman dalam posisi duduk. Sementara Davis kecil tak bisa tahan dan merebahkan diri, ayahnya tetap dalam posisi itu hingga pagi. Hingga suatu hari ayahnya menyatakan tak mampu lagi menanggung biaya hidup Davis dan menyerahkan kepada ibunya.
Tinggal bersama ibunya yang telah menikah dengan pria Kaukasia, meski dengan keuangan lebih baik, kehidupan Davis tak lantas mulus. Ia kerap cek-cok dengan ayah barunya. Tak tahan, ibunya pun memintanya pergi untuk tinggal bersama kakak tirinya.
Kakak tirinya ternyata memberi ultimatum, bila ia hanya mampu menampung Davis selama tiga hari. Bila Davis tidak bisa mendapatkan pekerjaan maka dalam tiga hari ia harus angkat kaki dari apartemennya. Selama tiga hari Davis berupaya mati-matian mencari pekerjaan. Tapi tak ada lowongan, hingga akhirnya masuk hari ketiga, karena putus asa ia bahkan mencoba bunuh diri.
Davis menenggak pil tidur di jalanan hingga sempat koma. Takdir berkata lain. Ia ditemukan kakak tirinya dan lalu dilarikan ke rumah sakit. Saat tersadar dan mengetahui bahwa ia masih hidup, kata pertama yang diucapkan Davis, “Crap, I failed” (Sial, saya gagal).
Satu konsekuensi yang harus dijalani pasien percobaan bunuh diri di Amerika adalah wajib lapor kepada petugas sosial dan mengikuti sesi terapi yang telah ditentukan. Saat itulah ia mulai berpikir lagi tentang agama.
Ketika itu, Usama Canon menjadi salah satu teman dan sosok terpenting dalam perjalanannya menuju Islam. Davis dan Canon bukan hanya kawan di luar. Mereka ternyata teman sekelas dalam pelajaran Bahasa Spanyol dan selalu duduk bersebelahan. Mereka akhirnya juga saling mengetahui bila kedua-duanya adalah seniman dan musisi.
Usama memiliki kode masuk ke ruang piano di aula musik. Mereka kerap menyelinap ke ruang itu untuk duduk dan bermain musik berjam-jam dan berdiskusi tentang spiritual. Davis dan Canon melakukan itu sepanjang semester.
Satu hari saat bersantap sushi di restoran Jepang dekat kampus, Davis mengaku pada Canon betapa ia lelah dengan hidupnya dan ingin kembali ke jalan yang lurus. Ketika itu Davis telah memiliki pekerjaan sebagai pelayan restoran di malam hari dan hidup sendiri di San Jose.
Davis merasa menanggung beban kejahatan masa lalu yang akan diam-diam dapat muncul dan menyergapnya, membuatnya terpuruk dari waktu ke waktu. “Jadi saat itu solusi nyata yang saya yakini untuk menghadapi masalah semacam ini adalah menjadi religius dan kembali ke gereja,” tuturnya.
Ia berkata pada Usama tengah mempertimbangkan kembali ke Katholik demi membuat hidupnya kembali tertib. Usama tiba-tiba bertanya apakah Davis pernah berpikir mengenai Islam. “Saya bilang kepadanya bahwa saya tak berpikir itu karena saya merasa bahwa itu adalah agama Arab atau gerakan separatis kulit hitam,” tuturnya.
Citra Islam di AS juga identik dengan Nation of Islam, gerakan yang didirikan oleh Wallace Fard Muhammad. Namun Nation of Islam sangat kental dengan semangat rasisme kulit hitam yang akhirnya memunculkan stigma negatif. Almarhum Malcolm X dulu juga bergabung dalam Nation of Islam. Tapi setelah memahami ideologi gerakan tersebut dan kian tersadarkan dengan persamaan derajat saat beribadah haji ke Mekkah ia memutuskan keluar. Mantan petinju Muhammad Ali juga sosok yang selalu menjaga jarak dengan Nation of Islam.
Selain tak nyaman dengan Islam, Davis merasa selama ini Muslim yang pernah ia jumpai adalah hipokrit dan ia mengaku tak pernah melihat Muslim yang taat dan baik.
Canon bercerita tentang kakak lelakinya yang telah memeluk Islam setelah bergabung sesaat dengan Nation of Islam. Kakaknya berkata agama itu bukan hanya untuk Arab dan cuku universal (Saat bercerita itu Usama masih belum masuk Islam, ia masih menggunakan nama Withney). Kakak Usama, Anas Canon, kini tak lagi bersama Nation of Islam.
Canon bertanya kepada Davis apakah ia mengenal Rasul Muhammad dan Davis menjawab yang ia tahu hanyalah Elijah Muhammad (salah satu pemimpin utama di Nation of Islam) yang bahkan menurut Malcoml x, bukanlah nabi. Canon lantas menerangkan bahwa ada sosok berbeda juga bernama Muhammad, yakni berasal dari Arab dan seorang rasul. Ia menyarankan agar Davis mempelajarinya.
Pda titik itu, ia menghindar. “Itu yang biasa saya lakukan ketika seseorang berbincang blak-blakan kepada saya mengenai agama. Lagi pula ‘Nabi Arab’? Saya tahu saat itu Islam bukan untuk saya.” imbuhnya. Mereka mengakhiri obrolan dan Davis menuju ke tempat kerja. Saat itu adalah Rabu.
Malam seusai bekerja ia pergi ke toko buku untuk membeli Injil dan berjalan melewati bagian “Filosofi Timur” dan berhenti lalu melihat sebuah buku hijau dengan nama ‘MUHAMMAD’ ditulis sepenuhnya dengan huruf timbul dalam tinta emas. Ia berpikir sesaat dan lalu meraik buku itu dari rak.
Judul sampul berbunyi, “MUHAMMAD-Sejarah Hidup Berdasar dari Sumber-Sumber Terdahulu” oleh Martin LIngs. Frasa ‘sumber-sumber terdahulu’ mengggugah rasa penasaran Davis meski ia di sana untuk membeli Injil. Saat itu Davis telah sadar dengan debat teologi mengenai sejumlah kesalahan dalam Injil yang juga cukup menggangunya.
“Jadi saya pun membuka buku itu dan mencoba membacanya. Namun nama-nama Arab sungguh sulit saya eja jadi saya mesti berjuang meski untuk memahami beberapa kalimat,” ungkapnya. Empat atau lima kalimat yang dibaca Davis menyebut Al Qur’an beberapa kali. “Tapi saat itu nama-nama Arab yang solid kiat meneguhkan realitas yang saya terima bahwa Islam adalah agama Arab dan bukan sesuatu yang menggerakkan saya untuk menjadi bagian dari itu, saya pun letakkan buku itu kembali.”
Ketika ia mulai berjalan meninggalkan hiruf-huruf emas “Muhammad”, matanya menangkap lagi sebuah buku lain. Kali ini, ia matanya tertuju pada sebuah buku berjudul ‘THE QUR’AN’. “Saya waktu itu hendak melewatinya namun teringat kata yang beberapa kali muncul dalam buku Martin Lings, jadi saya meraih buku itu dan mengambil dari rak.
Davis membuka secara acak dan terbuka begitu halam pertama Ayat Maryam. Ia membaca dari awal hingga akhir dan mengingat tubuhnya mulai merinding ketika ayat itu menerangkan dalam detil bagaimana kelahiran ajaib Rasul Isa Al Masih. “Saya sama sekali tak tahu bila Muslim juga mempercayai kelahiran ajaib Yesus tapi mereka tak meyakini ia sebagai anak Tuhan. Jujur sebagai seorang Kristen saya sendiri menganggap tak masuk akal Tuhan akan memiliki seorang anak.”
Tanpa memahami mengapa, di dalam toko buku itu ia memegang satu salinan terjemahan Al Qur’an dengan meneteskan air mata. “Saya memutuskan membelinya sehingga saya bisa membaca lebih lanjut apa yang sebenarnya yang diyakini Muslim,” tutur Davis. Dalam kondisi emosional saat itu, ia sepenuhnya lupa untuk membeli Injil dan lalu meninggalkan toko buku.
Keesokan paginya, Kamis, ia pergi ke kampus. Dalam perjalanan ke kelas ia melewati sebuah gelaran dagangan pinggir jalan dimana si empunya, pria Senegal menjual berbagai kerajinan, dompet dan boneka afrika. Ia sibuk melayani pembeli. Ketika ia melintas ia mengambil sebuah dompet begitu saja dan melihatnya.
Si pembeli yang dilayani pria Senegal pergi, penjual itu beralih pada Davis dan tersenyum. Senyum itu belum pernah dijumpai Davis sebelumnya. “Satu-satunya penggambaran yang tepat adalah senyum itu dipenuhi cinta dan cahaya,” tuturnya. Davis ingat betul kata-kata yang diucapkan pria Senegal itu. “Hello brother, how are you,” (Halo saudara, apa kabar?) Davis menjawab, “Saya baik, terima kasih,”
Ia lalu melihat Davis lebih dekat sambil tetap tersenyum dan berkata, “Brother, apakah anda seorang Muslim?…anda seperti seorang Muslim.” Davis luar biasa terkejut dengan pertanyaan dan asumsi itu karena tak ada seorang pun pernah membuat asumsi macam itu sebelumnya dan ia baru saja membeli Al Qur’an dan membacanya beberapa malam lalu. “Sebelum itu saya tak tahu apa pun tentang Islam,” ungkap Davis.
Davis menjawab bahwa ia bukanlah Muslim namun ia baru saja membeli Al Qur’an malam lalu dan membaca sebagian. Dengan senyum kian lebar si pria Senegal itu mendekatinya dan memberinya pelukan dan berkata lagi dan lagi, “Oh saudaraku, ini sangat indah. Ini luar biasa saudaraku. Saya sangat bahagia untukmu saudaraku. Ini pertanda baik dari Allah saudaraku. Engkau telah membuatku sangat bahagia saudaraku.”
Davis tak pernah bertemu dengan siapa pun yang begitu tulus. “Saya sangat terkejut saat ia memanggil saya saudara dan tersenyum, memeluk dna berkata ia sangat bahagia,” tuturnya. Pria Senegal itu bernama Khadim.
Khadim berjalan kembali ke dagangannya dan bertanya apakah Davis bisa membantunya. Davis dengan enteng mengiyakan. Khadim berkata ia adalah Muslim sehingga harus shalat lima waktu sehari di waktu yang ditentukan dan saat itu telah masuk waktu shalat sehingga ia perlu pergi sesaat. Ia meminta tolong Davis untuk menjaga lapaknya dan barang-barangnya. Ia bahkan menunjukkan kotak uang dan bertanya apakah Davis bisa menjualkan barang-barang bila ia pergi sesaat, sehingga bila ada pembeli tertarik ia tak melewatkannya. Khadim memberi tahu harga-harga barang, setelah itu pergi.
Duduk di sana selama 30 menit menunggu Khadim, Davis bertanya-tanya, siapa pria ini. “Ia meninggalkan saya bersama uang tunai. Saya bisa saja membawa semua dan pergi, tak mungkin ia menangkap saya,” ungkap Davis. Ia lantas mulai berpikir mengapa ia tak cemas dengan uangnya. Apakah itu, mengapa begitu penting hingga harus meninggalkan uang bersama seorang asing?
Davis juga berpikir mengenai ibadah lima kali yang begitu penting sehingga ia tak bisa meninggalkannya bahkan lebih memilih meninggalkan barang miliknya. Davis teringat lagi bahwa ia sedang menginginkan sesuatu yang penting sehingga ia bisa melupakan masalahnya.
Pria Senegal itu kembali dengan wajah penuh cahaya. Ia memeluk Davis lagi dan terus berkata, “Terima kasih brother, terima kasih banyak.” “Saya seperti meledak. Saya bolos dua jam mata kuliah hanya agar bisa bersama denganya. Saya takut jika saya meninggalkan dirinya, saya tak bisa menemukan kedamaian dan kebahagiaan yang ia bawa bersamanya.
Tak lama kemudia seorang pelajar Pakistan berjalan dan menyapanya dengan salam lalu beralih kepada Davis dan bertanya, “apakah kamu Muslim. Davis berkata, “Tidak, anda adalah orang kedua yang bertanya itu padasaya. Apa yang membuatmu bertanya itu?” Mahasiswa Pakista nitu menjawab, “Saya tidak tahu, anda terlihat seperti Muslim.”
“Saya terhenyak lagi. Saya bilang padanya bahwa saya baru saja membaca Al Qur’an dan ia ternyata seperti Khadim, sangat bahagia. Ia malah bertanya apakah saya pernah ke masjid sebelumnya. Saya jawab tidak. Ia bertanya lagi apakah saya mau berkunjung ke salah satu masjid besok. Saya bilang ya, saat itu saya sudah begitu jauh sangat ingin tahu, dan kami pun bertukar nomor telepon.
Pada siang hari berikutnya, Jumat, mahasiswa Pakistan itu datang dan menjemput Davis. Mereka pergi ke rumahnya. Ibu si mahasiswa menyiapkan makan siang dan mereka duduk di lantai. “Saya tak pernah sebelumnya duduk di lantai untuk makan namun hal ini tak terasa asing bagi saya sama sekali,” ungkap Davis. Setelah bersantap siang mereka berkendara menuju masjid (Asosiasi Komunitas Muslim/MCA) di Santa Clara, California.
Ketika ia berjalan ke masjid ada sekitar 40 pria berdri berbaris menunggu untuk meyapa Davis, mereka semua tersenyum dan menjabat tangan ketika ia berjalan. Mereka menyilahkan Davis duduk dan mereka pun melingkarinya.
Satu orang bertanya pada Davis apa yang ia tahu mengenai Islam. Ia pun mulai memaparkan kisahnya bagaimana ia pergi ke toko buku menjumpai dan membeli Al Qur’an dan seterusnya. Orang tersebut bertanya lagi apakah ia meyakini keberadaan Rasul Muhammad dan tanpa rasa berat Davis menjawab ya.
Ia ditanya lagi apakah Yesus adalah Tuhan ata anak Tuhan, lagi-lagi dengan tegas Davis menjawab tidak dan meyakini ia adalah nabi. Pria itu lalu menjelaskan mengenai keberadaan malaikat, kitab-kitab berbeda, wahyu dan hari kiamat, lalu firman Allah. Setelah menerangkan itu, ia bertanya apakah Davis mempercayai itu. Davis kembali dengan tegas berkata ya.
Pria itu berkata, “Ini adalah yang diyakini seorang Muslim dan anda meyakini hal yang sama, apakah kamu kemudian akan mau menjadi Muslim?”. Davis ingat ia pun menjawab pertanyaan itu dengan tegas, ringan tanpa beban, tanpa keengganan. Pria itu pun membantu Davis yang berjuang melafalkan syahadat dengan benar dan ia pun menjadi seorang Muslim tepat pada hari ke-17 bulan Ramadhan saat itu.
Davis pertama kali mendengar tentang Islam pada Rabu siang, membeli Al Qur’an pada Rabu malam, bertemu Khadim, si pria Senegal, pada Kamis yang kepadanya menunjukkan esensi sesungguhnya Islam, dengan perbuatan dan karakternya, lalu pergi ke masjid pada Jumat dan menjadi seorang Muslim.
Enam bulan setelah ia menjadi Muslim, ia bertemu lagi dengan Usama Canon yang terkejut dengan peralihannya. Ia pun memintanya menjelaskan Islam. Mereka pergi makan malam bersama dan berbincang mengenai agama. Hari berikutnya Davis giliran membawa Canon ke masjid dan ia mengucap syahadat lalu secara resmi menjadi Muslim. Ia adalah orang pertama yang memberi tahu Davis tentang Islam. “Saya seperti mendapat kehormatan membawanya ke masjid sehingga ia bisa menjadi Muslim,” tutur Davis.
“Bukanlah teologi atau debat keagamaan yang membawa saya ke Islam. Itu adalah musik, budaya, teman yang saya percaya dan orang asing yang tersenyum kepada saya. Ironisnya, justru budaya Arab yang pertama kali membuat saya tak ingin mencari tahu tentang Islam,” tutur Davis.
Setelah memeluk Islam, Davis malah menghabiskan waktu satu dekade meninggalkan budayanya–budaya yang justru menurut Davis telah mengarahkan ia pada Islam. Ia mulai mengadopsi budaya Arab sebagai budayanya.
Hingga suatu saat ia kembali ke akar budayanya sebagai seorang Amerika dan merekonsiliasi dengan statusnya sebagai Muslim. “Dalam cara yang sangat alami, cerminan alami karakter saya sendiri dan simbosis dengan keimanan saya sebagai Muslim.”
“Saya menulis kisah ini hari karena lima belas tahun setelah itu saya berlari ke arah Khadim sementara Usama Canon dan saya sedang berjalan bersama keluarga. Itu adalah kesempatan besar bisa bertemu lagi, seperti dua kesempatan untuk bertemu Usama dan Khadim lima belas tahun lalu. Saya mengambil foto dengannya hari ini, foto pertama saya bersamanya karena saya ingin menunjukkan pada orang-orang, inilah wajah pria yang memenangkan hati saya karena senyumnya yang tulus dan pribadinya yang baik.”
Catatan tambahan Davis

Abd Al-Malik

Kisah Musisi Rapper Prancis yang Bersyahadat di Jalanan


Abd al-Malikkisahmuallaf.com – Menjadi penjahat yang lihai mencuri mobil dan mengedarkan narkoba, Abd al-Malik bisa saja tak punya masa depan. Beruntung ia memiliki rasa ingin tahu yang begitu besar, yang menghadiahinya nilai-nilai terbaik di sekolah dan membawanya pada sebuah pencarian spiritual.
Sebagai seorang rapper, di awal keislamannya, Abd al-Malik sempat kalut saat mendengar Islam tak sejalan dengan seni musik yang dipilihnya. Dalam otobiografinya yang berjudul Sufi Rapper (2009), Abd al-Malik mengatakan budaya rap Prancis lahir dalam konteks rasisme dan xenofobia (ketakutan berlebihan pada orang asing) yang meluas.
Ia hidup di sebuah ghetto (lingkungan tempat tinggal para kaum imigran minoritas) di Prancis. “Saat aku masih sekolah, aku sering melihat politisi berkata ‘Kita semua adalah Prancis,’ tapi aku tak pernah melihat seorang pria kulit hitam pun di televisi. Tak ada politisi Prancis yang berkulit hitam,” katanya.
Ia masih ingat betapa ia mengecam kurangnya kesempatan bagi anak-anak imigran, juga iklim kemiskinan dan kejahatan di tempat tinggalnya. Hal itu semakin diperparah diskriminasi yang terjadi dalam berbagai hal, juga pelecehan yang dilakukan para polisi. Karena itu, ketika mulai populer pada 1990-an, musik rap dikritisi sebagai seni yang mengagungkan kekerasan dan mempertinggi ketegangan rasial.
***
Sebelum memeluk Islam, ia bernama Regis. Dilahirkan di Paris pada 14 Maret 1975 dengan nama Régis Fayette-Mikano . Pada 1977, Regis kecil yang berdarah Kongo dibawa orang tuanya kembali ke negara asalnya dan tinggal di Brazzaville (ibukota sekaligus kota terbesar di Republik Kongo). Régis menghabiskan masa kecilnya di sana, sebelum akhirnya ia dan keluarganya kembali ke Prancis dan menetap di distrik ghetto bernama Neuhof (selatan Kota Strasbourg) pada 1981.
Saat Regis memasuki usia remaja, ayahnya pergi meninggalkan rumah. Sejak itu, ibunya harus berjuang seorang diri membesarkan dan mendidik Regis orang anaknya. Dan sejak itu pula, Regis mulai tumbuh menjadi penjahat kecil.
Di lingkungan barunya yang keras, tanpa sosok ayah, Regis belajar memenuhi keterbatasan dan kekurangan yang didapatinya di rumah. Dari kejahatan-kejahatan kecil yang dilakukannya, ia terus tumbuh menjadi penjahat yang berhasil membangun dominasi bersama beberapa temannya.
Ia menjambret dan mencuri mobil, demi untuk menghasilkan uang yang tidak bisa diperolehnya dari rumah. Dalam kondisi itu, Regis menjalani tiga peran kehidupan sekaligus. Ia adalah seorang seorang anak yang berjuang mempertahankan hidup keluarganya, siswa yang berprestasi di sekolah, serta penjahat jalanan yang lihai.
Regis pun memilih musik rap untuk menyalurkan frustasinya, juga bercerita dan menyampaikan kritik sosial atas semua yang dialaminya. Terinspirasi rap Amerika pada tahun 1980-an, Abd al-Malik bergabung dengan saudara dan sekelompok temannya dan menciptakan New African Poets, disingkat NAP.
Di tengah kekritisannya, Régis terpikat pada gerakan Black Power dan mengidolakan Malcolm X sebagai seorang pahlawan Muslim kulit hitam yang telah berani menentang ketidakadilan. Baginya dan sejumlah pemuda imigran di Prancis kala itu, Islam menawarkan sebuah identitas yang menantang.
Pengetahuan tentang Islam diperolehnya dari para dai Islam yang berceramah di jalan-jalan. Pada usianya yang ke-16, Regis memutuskan memeluk Islam dan mengganti namanya menjadi Abd al Malik. Selama beberapa tahun setelahnya, bersama para Muslim tersebut, ia berkeliling Prancis untuk menyeru pria-pria muda agar pergi ke masjid, menumbuhkan dan memanjangkan jenggot, serta berhenti meminum alkohol dan mengkonsumsi narkoba.
Beberapa lama terlibat, Abd al Malik melihat ajaran yang populer di ghetto-ghetto Prancis itu bukan sesuatu yang secara eksplisit keras. Namun, katanya dalam Sufi Rapper, ajaran tersebut secara fanatik mendorong para imigran muda untuk mencerca segala sesuatu yang sekular, modern, dan kebarat-baratan. “Dan itu justru memperdalam rasa keterasingan kami,” ujarnya.
Di situlah ia kembali menemukan gejolak dalam batinnya. Sebagai remaja, Abd al Malik merasakan ketulusan dan semangatnya pada Islam sama besarnya dengan hasratnya pada rap, sebuah seni yang harus ia cerca dan jauhi. “Karena rap adalah musik modern, dan ia kebarat-baratan.”
Abd al Malik terjebak dalam paradoks itu hingga beberapa tahun. “Itu menyakitkan,” katanya. Perasaan sakit itu semakin menjadi karena ia membiayai musiknya dengan melakukan kejahatan dan menjadi pengedar narkoba. “Perbuatan-perbuatan itu sangat tidak agamis.”
Hingga pada akhirnya, suatu hari, Abd al Malik pergi ke seorang pemimpin penjahat lokal dan meminta pinjaman. Setelah itu, sambil memegang sebuah kantong sampah penuh uang, Abd al Malik terduduk dan menangis seorang diri di apartemennya.
***
Kekacauan batin itu mendorongnya untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang keimanannya. Dalam pencarian itu, ia memperoleh jawaban dari tasawuf, cabang sufisme Islam yang kontemplatif.
Ia menemui seorang guru spiritual dari Afrika Utara yang mengajarkannya bahwa inti agama adalah cinta dan kesadaran akan sifat rohani setiap manusia. “Maka, Islam adalah agama cinta. Islam adalah berdamai dengan dirimu dan orang lain,” katanya.
Ia sampai pada satu kesimpulan, bahwa memposisikan Islam sebagai agama kelompok minoritas sama dengan menjadi minoritas dalam Islam itu sendiri. “Dan itu bukanlah Islam yang sesungguhnya.”
Pergeseran pola pikir itu memperluas pandangan Abd al Malik tentang musik rap dan perannya melalui seni tersebut. Ia mulai menulis lagu untuk album solonya, dengan mengusung pesan yang menyerukan pemahaman antar ras. Salah satu lagunya, “12 September 2001,” adalah permohonan untuk memisahkan politik dan agama. Sebuah lagu lainnya, “God Bless France,” menggambarkan evolusi pribadinya dari kebencian pada patriotisme.
Dalam otobiografinya, Abd al Malik menuliskan bahwa dalam musiknya, ia hanya berupaya menerjemahkan bahasa hati. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan rap keras dan mulai berkolaborasi dengan berbagai musisi untuk mengembangkan sebuah suara baru yang mencampurkan musik jaz, nyanyian, dan puisi kecaman yang estetis.
Ketika para rapper lain terus menciptakan ‘musik amarah’ dan–beberapa diantaranya–dituduh menghasut kekerasan, Abd al Malik tetap dengan pilihannya. Alih-alih mengkritik sistem Prancis, Abd al Malik mendorong negaranya untuk hidup sesuai dengan cita-cita demokrasi. Melalui musiknya yang telah meraih berbagai penghargaan, ia menunjukkan bahwa Muslim tak harus menjauhi hal-hal modern. “Terlebih jika kita bisa berbuat sesuatu dengan itu.”


Dr. Roger Hadden

Memeluk Islam Karena Trinitas

Dr Roger Haddenkisahmuallaf.com – Roger Hadden adalah seorang dokter gigi berasal dari Dungannon, Irlandia Utara. Ia membuka praktek dokter giginya di Inggris. Namun, ia telah lama tinggal di Skotlandia.
Hadden dibesarkan dari keluarga Kristen, dan ia adalah telah memutuskan menjadi Kristen sejak lahir. Meskipun dibesarkan dengan ajaran Alkitab, namun ia tidak terlalu mengikuti prinsip-prinsip yang diajarkan.
Hadden layaknya pemuda Inggris kebanyakan, sangat suka bersenang-senang tanpa mengenal batas. Ketika remaja ia mengaku tidak menjalankan agama apa pun, termasuk Kristen. “Saya selalu percaya bahwa Tuhan itu ada,” ujarnya.
Ia meyakini alam semesta ada penciptanya dan manusia tidak bisa menciptakan dirinya sendiri. Ketika terus berusaha berpikir tentang Tuhan dari waktu ke waktu, Hadden selalu terganjal dalam keyakinannya.
Ketika melanjutkan studi ke jenjang universitas, ia bertemu banyak Muslim. Pada saat itu ia dan teman-teman Muslimnya terus bergulat dalam diskusi yang membahas tentang keyakinan. Hadden sangat menikmati diskusi-diskusi tersebut. Seiring dengan berjalannya waktu, Hadden ingin bersikeras memperdalam keagamaannya dan keyakinan Kristennya.
Ketika memasuki tahun terakhir kuliahnya di universitas, Roger Hadden membuat rencana untuk mereformasi keyakinannya dan menjadi seperti orang tuanya dulu; Kristen taat. Dan ia memutuskan untuk memulai memahami bacaan Alkitab.
Ia memulainya dengan memantapkan konsep Trinitas, yang selalu mengganggu pikirannya. Karena pada waktu itu pemahaman agama Kristennya masih awam, kadang ia cukup bingung untuk berdoa. “Apakah doa saya akan ditujukan kepada Tuhan Bapa atau Yesus,” ujarnya.
Hadden kemudian berbicara dengan beberapa pemuka agama Kristen, untuk mendapatkan penjelasan akan konsep Tritunggal. Namun, tak satu pun dari mereka yang dapat meyakinkan dirinya.
Ia kemudian memutuskan untuk terus membaca dan memahami Alkitab, dengan mencari kebenaran di dalamnya.
“Masalah Trinitas membingungkan saya. Karena mengapa semua Nabi dalam Perjanjian Lama berdoa kepada Tuhan dan melakukan tindakan benar berharap pengampunan Tuhan? Dan tidak ada yang berdoa kepada Yesus?” gusarnya.
Bahkan tidak disebutkan kata ‘Trinitas’ dalam Perjanjian Lama, dan sebagian pemuka Kristen bahkan berpendapat tidak ada dalam Perjanjian Baru. Hadden tahu, Tuhan tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang, jadi pasti ada yang salah dengan ini.
Hadden kemudian berbicara dengan teman-temannya di Universitas. Beberapa mereka beragama Sikh, Katolik, ateis, dan beberapa juga ada yang Muslim. Keingintahuan telah merubah hidup Hadden sepenuhnya, dan ia menemukan jawaban dari sahabat Muslimnya.
Dalam Islam diperintahkan menyembah satu Tuhan, yang tidak memiliki mitra atau partner dengan-Nya. “Saya sangat tertarik dengan konsep ini,” kata Hadden. Namun, Hadden terus membaca Alkitab dan membandingkan sumber-sumber Kristen dengan Alquran dan buku-buku Islam.
Ia menemukan bahwa Muslim percaya Tuhan mengirim pesan kepada umat manusia melalui para nabi yang berbeda sejak Adam, manusia pertama. Dan semua nabi itu hanya percaya pada satu Tuhan, Allah SWT. Dan Muslim juga percaya bahwa akan ada hari perhitungan di akhir dunia nanti, ketika semua orang akan dibangkitkan dan dihakimi.
“Saya menyadari bahwa inilah yang saya percaya. Dan apa saya pikir, seperti inilah Alkitab berkata pada saya,” kata dia. Hadden kemudian mendiskusikan hal-hal tersebut dengan kedua orang tuanya, namun mereka tidak terlalu terkesan.
Beberapa bulan memperoleh karunia dan hidayah Allah, Hadden memantapkan hati untuk menjadi seorang Muslim. Ia pun memutuskan memeluk Islam.
Ia meyakini keputusannya ini adalah langkah yang tepat. “Alhamdulillah, terima kasih Allah,” ujarnya.
Hadden kini mencoba menjadi Muslim sejati dan berusaha membantu orang lain. Hari-harinya diisi dengan ibadah, shalat lima waktu dan tadarus (membaca) Alquran. Teman-teman Hadden di universitas sempat terkejut dengan perubahannya, terutama sejawatnya di kedokteran gigi.
Orang tua Hadden pun marah besar, mereka percaya sang anak sudah dicuci otaknya. Ia ingat ketika pertama kali memberi tahu orang tuanya bahwa ia memilih menjadi seorang Muslim, mereka tidak terlalu terkesan.
Kedua orang tuanya mengatakan langkah Hadden itu adalah “tindakan yang dibenci agama”. Namun, itu tidak menyurutkan langkah sang dokter gigi untuk menjadi pengikut Rasulullah. Beberapa bulan kemudian ia memutuskan bersyahadat.
Walaupun sejak masuk universitas Hadden selalu berjauhan dengan orang tuanya, tetapi ia terus mencoba untuk mengunjungi mereka. Kini, ia merasa hubungan dengan orang tuanya telah membaik. Sebab, berlaku baik kepada mereka (orang tua) adalah perintah Allah dalam Alquran.
“Saat ini saya bekerja sebagai dokter gigi di Inggris. Dan telah menikah dengan seorang wanita Muslimah setahun yang lalu. Dan berkat karunia Allah, kami dianugerahi seorang anak bernama Ismael,” tuturnya.

Yulio Muslim da Costa

Mantan Asisten Pastor Kini Hafal 30 Juz Al-Qur’an

Yulio Muslim da Costakisahmuallaf.com – ‘’Man Jadda Wajada.’’ (Barangsiapa bersungguh-sungguh, pastilah ia akan berhasil). Ungkapan seorang bijak yang biasa dihafal kalangan santri itu rupanya benar-benar diamalkan oleh Yulio Muslim da Costa, seorang mualaf asal Tmor Timur. Berkat kesungguhannya, ia mampu menghafal Alquran sebanyak 30 juz.
Sebelum memeluk Islam, ia bernama Yulio da Costa Freitas. Yulio terlahir dari keluarga yang amat sangat sederhana, 33 tahun silam, tepatnya 5 Januari 1977 di dusun Baruwali, Lautem, Timor-Timur. Awalnya, ia adalah seorang penganut agama Katholik yang terbilang aktif dalam aktivitas kegerejaannya.
Selain taat dengan keyakinannya, ia juga dipercaya sebagai pembantu pastor dalam setiap kegiatan rutinitas gereja, terutama dalam setiap acara misa mingguan. Seiring waktu, keimanannya mulai goyah. Setelah tiga tahun membantu pastor di gereja, Yulio mengaku sering mendengar bisikan di antara teman-temannya yang ragu akan kebenaran agama yang dipeluknya.
Terlebih, sanak saudaranya sudah banyak yang memeluk Islam. Hati Yulio pun semakin gundah. Perlahan-lahan keyakinannya terhadap agama Katholik yang dianutnya mulai meluntur. Ia pun mulai melirik agama Islam. Acara siraman rohani agama Islam yang ditayangkan televisi nasional mulai membetot perhatiannya.
Jalan menuju Islam akhirnya terbuka. Suatu hari, Ustaz Zakaria Fernandes, salah satu pamannya yang menjadi dai di Lautem mulai mendekati dan mengajaknya untuk masuk Islam. Yulio pun tertarik dengan ajakan sang paman. Terlebih, dengan masuk Islam, ia memiliki kesempatan untuk bersekolah di pulau Jawa.
Tekadnya untuk memeluk Islam sempat terbentur keluarga. Kedua orangtua dan sebagian keluarganya, menentang niat Yulio untuk pindah agama. Namun, halangan itu tak menyurutkan tekad bulatnya untuk menjadi seorang Muslim. Keseriusannya untuk berpindah akidah akhirnya mendapat restu dari kedua orangtuanya.
Sebelum Yulio mengucapkan dua kalimah syahadat, jumlah pemeluk Islam di kampung halamannya masih bisa dihitung jari. Ia mengaku pernah menyaksikan, perayaan Idul Fitri di kampungnya hanya diikuti tak lebih dari 20 orang. Berjudi, berdansa, meminum sopi (minuman keras), dan memakan daging babi merupakan kebiasaan non-Muslim di kampung halamannya.
Yulio akhirnya hijrah dari tanah kelahiran dan agama yang dulu dianutnya. Ia bersama Ustaz Zakaria berangkat ke kota Dili, ibu kota Timor Leste sekarang. Sebelumnya, mereka sempat singgah di kota Bau Kau. Di kota itulah, Yulio masuk Islam dan mengucap dua kalimah syahadat di depan Ustaz Zakaria.
Peristiwa penting bagi kehidupan Yulio itu terjadi pada 28 Juni 1993, beberapa saat sebelum waktu Maghrib tiba. Sejak itu, ia hanya ingin dipanggil dengan nama Muslim, karena namanya telah berubah dari Yulio da Costa Freitas menjadi Yulio Muslim da Costa.
Setelah menjadi Muslim, ia sempat bertanya kepada sang paman apa yang harus dilakukan di awal keislamannya? Sang paman pun hanya berujar singkat agar Muslim tak terbebani, ‘’Ikuti saja apa pun yang imam lakukan dalam shalat.’’
Sejak saat itu, Muslim selalu mengikuti setiap gerakan yang dilakukan imam, bahkan di saat shalat dan imam selesai dan sang imam berzikir sambil menggerak-gerakkan bibirnya. ‘’Padahal, saat itu saya tak tahu apa yang diikuti itu. Terkadang kalau mengingat kenangan itu, saya selalu menertawakan diri sendiri,’’ tuturnya sembari tersenyum.
Sebelum berangkat ke Pulau Jawa, hampir dua pekan lamanya ia tinggal di Kota Dilli. Muslim mengaku sempat gelisah karena temen-temennya dari Kabupaten Moro mulai berdatangan. Belum ada satupun yang tahu di antara mereka, kalau dirinya telah pindah keyakinan.
Untuk menutupinya, ia berusaha bersikap biasa terhadap mereka. Bahkan karena ajakan temen-temennya, ia sempat tergoda kembali untuk melakukan judi. Satu hari sebelum keberangkatan ke Pulau Jawa pun, ia masih sempat bermain judi di Pasar Bekora, sampai sedikit bekal dari keluarganya pun habis. Akhirnya Muslim pun berbohong, dan mengaku kecopetan.
Kapal Kalimutu membawanya ke Pulau Jawa. Ia lalu tinggal di salah satu Pondok Pesantren Paciran Lamongan Jawa Timur, tempat Ustaz Zakaria pernah menimba ilmu beberapa tahun yang lalu. Di Paciran, Muslim sempat menimba ilmu sambil menunggu jemputan dari Pondok Pesantren Taruna Alquran Yogyakarta pimpinan KH Umar Budihargo.
Setibanya di Pondok Pesantren Taruna Alquran Yogyakarta, Muslim mengisi hari-harinya dengan mempelajari agama Islam. Berbekal semangat tinggi, ia akhirnya mampu membaca tulisan Arab. Hanya dalam hitungan tiga pekan, Muslim sudah menamatkan buku Iqra. Setelah bisa membaca tulisan Arab, sedikit demi sedikit, ia mulai menghafal surat-surat pendek.
Ketekunannya menghafal Alquran berbuah manis. Selama di pesantren itu, ia mampu menghalaf sembilan juz Alquran. Melihat semangat Muslim yang begitu tinggi, KH Umar Budihargo mengirimnya ke salah satu pondok pesantren khusus tahfiz selama enam bulan.
Sekembalinya dari pondok tahfiz, Muslim mengikuti ujian SMP dan dia lulus dengan hasil yang memuaskan. Sering kali dalam shalat-shalat malam, Muslim menangis mensyukuri hidayah Allah. Ia juga kadang sering berdoa meminta kepada Allah agar tetap istiqamah untuk belajar agama Islam lebih mendalam lagi.
Doanya terkabul. Muslim menjadi salah satu santri yang ditunjuk untuk mengikuti tes seleksi melanjutkan studi ke kota Nabi SAW, yaitu Madinah al-Munawarah. Tanpa sengaja, Muslim sempat bertemu dan berbincang-bincang langsung dengan salah satu syekh penguji dari Madinah. Bermodalkan bahasa Arab sebisanya, Muslim memberanikan diri menceritakan sebagian dari kisah hidupnya.
Sang Syekh sangat tertarik dengan cerita kehidupan dan kemualafannya. Ulama dari Madinah itu meminta Muslim untuk membawa ijazah dan ingin mengujinya langsung. Sembari menunggu pengumuman hasil tes penerimaan dari Madihah, KH Umar Budihargo memberi amanah kepada Muslim untuk memegang pondok di Gunung Kidul, Karangmojo, Yogjakarta pada 1997.
Setahun kemudian, pengumuman hasil tes itu keluar. Ia menjadi salah seorang peserta yang terpilih untuk menimba ilmu di kota Madinah. Pada Ramadhan tahun 1999, ia sempat pulang ke Tanah Air. Ia bermaksud untuk mengajak kedua orangtua dan adik-adiknya untuk memeluk Islam.
Saat itu – pascareferendum — keluarganya sedang mengungsi di Kupang, NTT. Muslim pun bertemu dengan keluarganya, dan ia menyampaikan ajakannya itu. Namun, hidayah hanya milik Allah SWT. Saat itu, keluarganya belum merespons dakwahnya untuk memeluk Islam.
Ia akhirnya kembali ke Madinah dengan hati yang sedikit kecewa. Meski begitu, Muslim tak pernah berhenti berdoa agar keluarganya segera dibukakan pintu hatinya untuk menerima Islam. Doanya akhirnya dikabulkan. Pada 2003, keluarganya berkunjung ke Yogyakarta dan pada pertengahan tahu itu pula, kedua orangtua dan empat adiknya bersyahadat dan memeluk Islam.
Yulio Muslim da Costa tak pernah berhenti bersyukur. Hidayah Allah SWT yang menuntunnya menjadi seorang Muslim menjadi berkah bagi kehidupannya. Ia mengaku begitu besar nikmat yang diberikan Sang Khalik kepada dirinya setelah memeluk Islam. Salah satu nikmat yang dirasakannya adalah pemahaman ilmu agama Islam.
Tujuh tahun lamanya Muslim menimba ilmu di kota Rasullullah SAW. Dari 1998 hingga 2005, ia akhirnya menjadi sarjana Syariah. Ilmu itu digunakannya sebagai modal dan bekal dakwah Islam. Bahkan, sampai saat ini ia selalu aktif mengkader anak-anak dari kampungnya untuk disekolahkan di pesantren di daerah Jawa dan sekitarnya dan mengajak orang-orang untuk masuk dalam agama Islam.
Setelah menyelesaikan studinya, Muslim memilih untuk berjuang bersama orang-orang Islam di bumi pertiwi, karena orang-orang Islam Indonesia memiliki semangat juang yang tinggi. Muslim kembali ke Yogyakarta dan dipercaya KH Umar Budihargo untuk memegang Pondok Tahfiz Putra dan Taklim bahasa Arab yang berada di Gunung Sempu, Kasihan, Bantul, DIY.
Lika-liku kehidupannya yang berawal dari nol sampai sekarang telah membuatnya belajar banyak hal. Selama 13 tahun meniti hidup di kota Gudeg, ia selalu dipertemukan Allah SWT dengan kawan-kawan yang berjuang di jalan Allah.
Sampai akhirnya, dengan berniat karena Allah semata, Muslim pun berhijrah dengan mencari suasana baru di kota Bogor, tepatnya Ciawi, beserta keluarga yang selalu mendukung setiap langkah beliau sampai sekarang. Pada 2006, Muslim diberi amanah dan kepercayaan oleh Yayasan Bina Duta Madani untuk memegang Pondok Tahfiz Putra dan Studi Bahasa Arab di Pondok Pesantren Bina Madani Bogor Jawa Barat.
Pesantren ini bertujuan mencetak para hafiz yang mengamalkan dan mendakwahkan ilmunya. Muslim selalu berdoa semoga Allah senantiasa memberikan keistiqamahan dalam agama Islam, dan diberikan sebaik-baik penerus yang bermanfaat. Saat ini, ia telah dikaruniai tiga orang putera, yaitu Yasir Muslim Dacosta, Ayub Muslim Dacosta dan Saad Muslim Dacosta.


kisah mualaf "Isa Graham"

Nekat Mencuri Al-Qur’an Demi Membuktikan Kebenaran Injil

Isa Graham Conver to Islamkisahmuallaf.com – Baris demi baris kalimat dalam kitab setebal 500-an halaman yang dibacanya hanya menyisakan satu kesan di benaknya; kagum. Dan kekaguman yang bercampur rasa ingin tahu menjadi satu alasan bagi pemuda bernama Brent Lee Graham untuk mencuri buku itu dari perpustakaan kampusnya.
Dengan desain sampul yang menurutnya eksotis, buku berbahasa Inggris itu lebih dari sekadar menarik bagi Brent. Selain menyajikan berbagai cerita indah para nabi, buku itu berisi banyak kisah mengagumkan yang tak banyak ia ketahui.
“Saat itu aku baru berusia 17 tahun,” Brent mengawali kisahnya pada Republika, di sebuah pusat perbelanjaan Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.
-0-0-
Semua berawal dari perenungannya tentang kematian. Brent yang telah mengubah namanya menjadi Isa Graham itu masih mengingat jelas dua peristiwa yang membuka matanya tentang kematian, hal yang tak pernah menyibukkannya.
Masa mudanya yang akrab dengan musik membuat Brent dekat dengan pesta. Dan pesta pada malam itu berbeda. “Aku terus mengingatnya hingga sekarang,” ujar pria yang pernah belajar di sekolah musik itu.
Malam itu, sebelum memasuki rumah tempat pesta digelar, Brent melihat beberapa orang membawa keluar sesosok tubuh lunglai seorang pemuda mabuk. Pemuda itu lalu diletakkan di salah satu sisi halaman rumah, dan ditinggalkan bersama mereka yang lebih dulu tak sadarkan diri karena alkohol. Tak ada pertolongan, tak ada obat-obatan. “Aku berpikir, bagaimana jika mereka mati?” ujarnya.
Brent tak dapat membenarkan apa yang baru dilihatnya. Terlebih, ketika ia berharap ada sedikit kepedulian di sana, Brent justru mendapati sebaliknya. “Beberapa orang yang baru datang ke pesta berlalu begitu saja saat melewati mereka yang tergeletak di halaman. Itu menyedihkan,” katanya.
Terhenyak, Brent mendengar teriakan dari dalam rumah, memanggilnya. Teman-temannya meminta Brent masuk dan memainkan musik untuk mereka.” Brent masuk dengan sebuah pertanyaan menghantuinya. “Jika aku mengalami hal menyedihkan seperti orang-orang yang ada di halaman itu dan kemudian mati, apakah mereka akan memikirkan keadaanku?”
Keesokannya, sebuah peristiwa lain kembali menghentak hati Brent, memaksanya merenungi segala hal dalam hidupnya. “Seorang dosen mendatangi kelasku dan membawa berita kematian salah seorang teman sekelas kami,” kenangnya. Brent terguncang.
Ia semakin teguncang mengetahui teman sekelasnya itu meninggal karena heroin. Brent menjelaskan, semua orang di kampus tahu teman mereka yang baru meninggal itu tak pernah menggunakan heroin. “Dan ia meninggal pada percobaan pertamanya menggunakan obat terlarang itu,” Isa menghela nafas. “Hidup begitu singkat.”
Perasaan takut menyergap Brent. Dan remaja 17 tahun itu mulai memikirkan kehidupannya, juga kematian yang ia tahu akan menghampirinya.
Brent memiliki seorang Ibu yang menjadi pengajar Injil, dan menyekolahkan Brent di sebuah sekolah Injil. “Aku mengetahui isi kitab suciku. Dan karenanya, aku banyak bertanya tentang agamaku,” kata Brent.
Brent tahu, nabi-nabi yang diutus jauh sebelum Yesus lahir menyampaikan ajaran yang sama, yakni tauhid. “Pun Yesus. Dalam Injil dijelaskan bahwa ia menyerukan tauhid. Dan itu bertentangan dengan konsep Trinitas yang diajarkan gereja,” ujarnya.
Siang itu, saat membaca terjemahan Alquran di perpustakaan kampus, Brent dikejutkan oleh sebuah ayat yang mengatakan bahwa Yesus bukanlah anak Tuhan. “Ayat itu seolah menjawab keraguanku tentang Trinitas,” katanya.
“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.” (An-Nisa’: 171)
Brent mencuri Alquran itu dari perpustakaan, dan mulai berinteraksi dengan Alquran. Keterkejutan terbesar muncul saat ia membaca ayat-ayat tentang Yesus. “Alquran memuat cerita tentang kelahirannya yang menakjubkan, tentang ibunya yang mulia, juga keajaiban yang tidak diceritakan dalam Injil, ketika dari buaian ia membela kehormatan ibunya.”
Penemuan hari itu membawa Brent pada sebuah misi pembuktian. “Aku bertekad menemukan pernyataan Injil yang akan mampu menjawab pernyataan Alquran. Dan Brent menemukannya. Sayang, jawaban itu sama sekali tak mendukung doktrin agamanya, dan justru membenarkan Alquran.
Dalam Injil Yohanes 3:16 misalnya, tulis Brent dalam artikel “My Passion for Jesus Christ” (muslimmatters.org), disebutkan tentang anak Tuhan dan kehidupan abadi bagi siapapun yang mempercayainya. “Jika kita terus membaca, kita akan bertemu Matius 5:9 atau Lukas 6:35 yang menjelaskan bahwa sebutan ‘anak Tuhan’ tidak hanya untuk Yesus,” katanya.
Brent menambahkan, baik dalam teks Perjanjian Baru dan juga Perjanjian Lama, Injil menggunakan istilah “anak Tuhan” untuk menyebut orang yang saleh. “Dalam Islam, kita menyebutnya muttaqun (orang-orang yang bertakwa),” jelas Isa.
Dalam pencarian yang semakin dalam, Brent menemukan bahwa ayat terbaik yang dapat membuktikan doktrin trinitas telah dihapuskan dari Injil. “Ayat itu dulu dikenal sebagai Yohanes 5:7, dan kini secara universal diyakini sebagai sebuah ayat sisipan yang penah secara sengaja ditambahkan oleh gereja,” terang Isa yang kemudian menguraikan hasil penelitian seorang profesor peneliti Injil asal Dallas, Daniel B. Wallace, tentang ayat tersebut.
Dari The New Encyclopedia Britannica yang dibacanya, Brent menemukan pula bahwa tidak satupun doktrin dalam Perjanjian Baru, termasuk kata Trinitas ataupun perkataan Yesus sekalipun, bertentangan dengan pengakuan Yahudi tentang ketauhidan yang disebutkan dalam Perjanjian Lama (Injil Ulangan 6:4).
Brent berkesimpulan, bukan Yesus ataupun para pengikutnya yang mengajarkan Trinitas. “Dan mereka yang mengajarkan Trinitas menambahkan keyakinan yang dibuat-buat ke dalam Injil?” ia bertanya, sekaligus menjawab pertanyaan yang muncul di otaknya.
Setelah mencapai kesimpulan yang sulit diterimanya itu, ia menemukan sebuah peringatan dalam Injil Perjanjian Lama. “… jika seseorang menambahkan (atau mengurangi) sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini.” (Wahyu 22:18-19)
“Ayat itu senada dengan pernyataan Alquran,” tandas Brent. “Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: ‘Ini dari Allah’, (dengan maksud) memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” (Al-Baqarah: 79)
Pertanyaan dalam otak Brent belum tuntas. Ia kembali bertanya-tanya, “Jika Injil dan Alquran sama-sama memastikan Yesus bukanlah seorang anak Tuhan, lalu siapa dia?”
Lagi-lagi, Brent menemukan banyak kesepakatan antara Injil dan Alquran. Melalui ayat masing-masing, kedua kitab yang diselaminya itu menegaskan kenabian Yesus. “Yesus diutus untuk menyeru umatnya pada keesaan Tuhan, sebagaimana dilakukan para nabi dan rasul sebelumnya.”
Persoalan agama itu menjadikan Brent semakin kritis, yang menggiringnya pada berbagai pertanyaan besar tentang agamanya. Ia mempelajari berbagai agama lain. “Aku mencari tahu tentang beberapa agama, aku mempelajari paganisme, dan aku tertarik pada Islam.”
Di mata Brent kala itu, Islam adalah agama yang sempurna. “Aspek ekonomi, pemerintahan, semua diatur dengan baik dalam Islam. Aku kagum pada cara Muslim memperlakukanku, dan aku sangat kagum pada bagaimana Islam meninggikan derajat perempuan.”
Brent pun menyatakan keinginannya untuk masuk Islam pada seorang teman Muslimnya. “Sayang, ia memberitahuku bahwa aku tak bisa menjadi Muslim, hanya karena aku dilahirkan sebagai Kristen. Karena tak mengerti, aku menerima informasi itu sebagai kebenaran,” sesalnya.
Bagi pemuda kebanyakan di Australia, bisa jadi kehidupan Brent nyaris sempurna. Ia mahir memainkan alat musik, menjadi personel kelompok band, dan popular. Ia bisa berpesta sesering apapun bersama teman-teman yang mengelukannya. “Namun aku tidak bahagia dengan semua itu. Aku tak tahu mengapa.”
Namun terlepas dari kondisi tidak membahagiakan itu, Brent sangat mencintai musik. Ia mempelajari musik, memainkannya, mengajarkannya, dan menjadi bahagia dengannya. Hingga ia berfikiran bahwa musik adalah agamanya, karena mampu membuatnya bahagia.
Tanpa agama yang menenangkan hatinya, Brent seolah terhenti di sebuah sudut dengan banyak persimpangan. Perhentian itu membangunkannya di sebuah malam. “Aku berkeringat dan menangis. Aku sangat ketakutan sambil terus bergumam ‘Aku bisa mati kapanpun’,” tuturnya.
Dengan keringat dan air mata itu, Brent memanjatkan doa. “Aku meminta pada semua Tuhan; Tuhan umat Kristen, Tuhan umat Islam, Tuhan siapapun, karena aku tak yakin harus meminta pada salah satu diantaranya.”
“Tuhan, aku teramat sedih dan gundah dan tak tahu bagaimana menyelesaikannya. Tolong, beri aku isyarat, beri aku petunjuk, beri aku jalan keluar,” Brent mengutip doa yang diucapkannya 15 tahun lalu.
Isyarat Allah menghampiri Brent keesokan harinya. Seorang Muslimah asal Burma yang menjadi teman kampusnya mengiriminya sebuah email. Ia tahu Brent telah tertarik pada Islam sejak belajar di sekolah menengah, dan dalam emailnya itu ia bertanya apakah Brent masih tertarik pada Islam. Brent mengiyakan.
Beberapa hari kemudian, teman asal Burma itu datang ke rumah Brent dan membawakannya sejumlah buku tentang Islam. Membacanya, Brent tahu bahwa Islam tak melarang non Muslim sepertinya untuk memeluk agama itu. “Dari buku itu aku tahu bahwa banyak dari sahabat Nabi saw, termasuk Abu Bakar, adalah mualaf. Aku sangat senang dan berteriak dalam hati, ‘Ini yang kumau’.”
Selesai dengan bacaannya, Brent mendatangi seorang teman Muslim dan memintanya menjelaskan tentang jannah (surga). Dari penjelasan tentang surga itu, bertambahlah kekaguman Brent, juga kemantapannya pada Islam. Masjid Al-Fatih Coburg, Melbourne, menjadi saksi keislaman Bent Lee Graham.
Ia lalu mengganti namanya menjadi Isa Graham. “Aku ingin orang (non Muslim) tahu bahwa dalam Islam, kami juga mempercayai Yesus,” ujarnya. Bagi Isa, mencintai seseorang tidak seharusnya diwujudkan dengan menuhankannya, melainkan mengatakan segala sesuatu tentangnya apa adanya. “Kini aku ingin menunjukkannya pada Yesus, bukan sebagai seorang Kristen, namun sebagai Muslim,” tegas Brent menutup perbincangan.


kisah mualaf "Ali Akbar"

Ayahku Dibunuh Karena Memeluk Islam

Muhammad Ali Akbarkisahmuallaf.com – Konflik Timor Leste mewarnai perjalanan hidupnya, juga pertemuannya dengan Islam. Bertahun-tahun lamanya, remaja bernama Luis Monteiro seolah menyusun pecahan puzzle yang tak pernah ia tahu gambar utuhnya. Tak sia-sia, setelah tujuh tahun, semua hal membingungkan itu membawanya pada satu jawaban; Islam.
Terlahir di wilayah konflik tentu bukan keinginannya. Namun boleh jadi, itulah satu hal yang disyukurinya kini. Ali Akbar, ‘penyusun puzzle’ itu, kini telah hidup dalam kedamaian Islam. “Ceritanya panjang,” ujarnya.
***
Ali masih mengingatnya dengan baik. Dua puluh tiga tahun yang lalu, ia adalah seorang Kristiani yang rajin mengunjungi gereja. Ia adalah satu dari delapan orang bersaudara dan tinggal di dalam sebuah rumah yang memiliki simbol bulan sabit. Seorang yang tak pernah menempuh pendidikan formal hingga usia 20-an, dan menghabiskan masa remajanya di barak militer.
Sebuah peristiwa di tengah masa itu mengawali segalanya. Ali dikejutkan oleh aksi Paus Yohanes Paulus II, ketika pemimpin gereja Katolik Roma itu berkunjung ke Jakarta pada 1989. “Setelah turun dari pesawat, ia sempat bersujud,” kata pria kelahiran 1973 itu.
Pemandangan yang disaksikannya melalui satu-satunya televisi nasional kala itu, katanya, segera memunculkan sesuatu yang aneh dalam hati dan pikirannya. “Terlintas pertanyaan besar dalam benakku, mengingat doktrin gereja yang sampai padaku menyebut Yohanes sebagai Tuhan. Jika ia memang Tuhan, lalu kepada siapa ia bersujud?” lanjutnya.
Ali berpendapat, sujud adalah ekspresi ketundukan seorang hamba pada Dzat yang besar dan agung serta lebih berkuasa darinya. Ali pun mulai mulai mencurigai dan mempertanyakan doktrin-doktrin gereja yang telah diterimanya. Lalu ia mulai mencoba melakukan pembangkangan dengan caranya.
Ali menjelaskan, salah satu doktrin gereja lainnya mengatakan bahwa setiap umat Katolik yang bertemu Paulus harus mencium tangannya. “Jika tidak, ia akan mati atau memperoleh akibat yang fatal,” ujarnya. Maka ketika Paulus II berkesempatan mengunjungi Timor Leste (saat itu Timor Timur), Ali memutuskan untuk ‘mencoba’ tidak menyalami sang Paulus.
“Sampai tahun 1990, semua aman. Tidak ada hal fatal yang terjadi, dan itu membuatku semakin ingin tahu tentang kebenaran ajaran agamaku,” katanya.
Pada tahun yang sama, Allah membimbing Ali pada potongan puzzle lainnya. Di tanah kelahirannya, bulan sabit adalah sebuah simbol adat. “Setiap rumah adat Timor Leste selalu memiliki simbol bulan sabit di bagian atapnya. Di saat yang sama, aku mengenalnya pula sebagai simbol masjid,” katanya.
Seolah tak terima, otak Ali kembali dipenuhi tanda tanya. Ia mempertanyakan mengapa simbol itu tidak terdapat di gereja yang menjadi tempat ibadah hampir seluruh masyarakat Timor Leste. “Aku benar-benar ingin tahu mengapa simbol kami itu justru terdapat di tempat ibadah umat lain (Muslim).”
Seorang pria keturunan Arab yang dikenalnya mengatakan pada Ali, bahwa sebelum Portugal datang, Timor Leste telah dihuni oleh orang Islam. “Menurutnya, simbol bulan sabit adalah peninggalan orang-orang Islam pada masa itu,” ujarnya. Ali menyimpan jawaban itu dalam pikirannya.
Tak lama berselang, pertanyaan serupa kembali berputar di kepala Ali. Ia melihat kesamaan antara alat musik tabuh khas Timor Leste, tebe-tebe (bentuknya seperti seperti bedug, namun berukuran kecil), dengan bedug yang pernah diihatnya di masjid. Juga antara ritual baptis dengan amalan wudhu yang dilakukan oleh Muslim sebelum shalat. “Aku merasa seolah ada kedekatan antara adat kami dengan budaya Islam,” katanya.
Ali lalu menghampiri ayahnya dan mengutarakan rasa ingin tahunya. “Ayah hanya menjelaskan bahwa sebagian dari adat kami adalah peninggalan sekelompok orang yang tidak makan babi. Belakangan aku baru tahu bahwa mereka (yang tidak makan babi) adalah orang-orang Islam.”
***
Hingga usia 20-an, Ali tak pernah mengenyam bangku sekolah. Terlahir dari dua orang tua yang tidak mengenal baca-tulis, dan sebagai anak laki-laki yang memiliki tiga orang adik, Ali harus mengutamakan adik-adiknya. Terlebih, ketika mulai diberlakukan wajib militer, Ali harus meninggalkan rumah dan tinggal di barak. “Kami dilatih untuk menjadi tenaga bantuan operasi militer. Semacam sukarelawan, karena kami tidak digaji.”
Aturan yang semakin menjauhkannya dari bangku sekolah itu tak sepenuhnya ia sesali. Karena justru di lingkungan militer itu Ali mengenal huruf dan angka serta baca-tulis.
Segera setelah mampu membaca, meski masih terbata-bata, Ali tergerak untuk mengetahui isi Al-Kitab. Ketika pulang ke rumah suatu hari, ia meminjam Injil milik kakak iparnya dan mencoba membacanya. Di barak, ia juga memiliki bacaan lain. “Buku cetakan 1975 terbitan Thoha Putra. Judulnya Tuntunan Shalat Lengkap,” jelas Ali.
Di buku itu, Ali menemukan kejutan lain. “Ada kata ‘jemaah’ (ejaan lama untuk kata ‘jamaah’), sama dengan nama gerejaku; Jemaat. Lagi-lagi aku didekatkan pada Islam melalui hal-hal yang kukenal.” Ia juga menemukan kata “derajat” dalam buku itu, menjelaskan pahala orang yang shalat berjamaah.
Ali muda yang tidak bisa mendiamkan hal itu pun bertanya pada kakak iparnya tentang arti dan makna ‘derajat’. Ia juga menanyakan imbalan bagi jemaat gereja jika mereka melakukan segala sesuatu yang diperintahkan Tuhan. “Ia hanya menjawab bahwa belum waktunya aku menanyakan perkara itu.”
Tidak puas, sekembalinya ke barak, ia bertanya pada salah seorang tentara Muslim tentang arti derajat, juga tentang pengertian shalat dan berjemaah. Darinya, Ali mengerti bahwa shalat adalah sembahyang, derajat berarti nilai, dan jemaah adalah bersama-sama.
Ketika tentara itu sampai pada penjelasan tentang pahala shalat berjamaah, Ali segera dihinggapi perasaan kagum. “Semakin baik amalan dilakukan, semakin tinggi nilai imbalannya. Itu ajaran yang hebat,” katanya.
Ali kembali mendatangi kakak iparnya dengan sebuah pertanyaan yang sama; imbalan yang akan diperolehnya jika ia menjalankan semua yang diperintahkan Tuhan. Tak ada jawaban yang memuaskan Ali. Dan diskusi yang berlangsung hampir semalaman itu berakhir dengan pertengkaran keesokan paginya.
Diskusi tersebut membawa Ali pada kesimpulan yang tak diharapkannya. Ia segera teringat keterlibatannya sebagai anggota militer non-formal kala itu. “Aku tidak digaji, tidak memiliki jaminan hidup, dan jika harus mati, aku akan mati secara konyol. Tidak seperti para tentara formal yang digaji oleh pemimpin tertinggi mereka.”
“Harus seperti itukah posisiku dalam beragama jika Tuhan tidak memberikan imbalan apapun atas amalan umatnya? Jadi, apakah agama hanya untuk orang-orang tertentu?” Ali berontak. Ia semakin geram ketika tahu mereka yang bersekolah mendapatkan nilai dari guru atas hasil kerja dan prestasi mereka di sekolah. “Bagaimana mungkin Tuhan tidak memberiku imbalan sedikitpun atas amal baikku? Apa manfaat sembahyangku selama ini?”
***
Ketika otaknya masih menyimpan berbagai pertanyaan yang belum terjawab, suatu hari Ali menemukan buku kecil berjudul “UUD 1945” di barak. Ia membacanya dan menemukan pasal yang menjelaskan tentang kebebasan beragama. Ia juga menemukan daftar lima agama yang diakui di Indonesia dalam buku Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4), di mana Islam berada di urutan pertama.
“Sebelum membaca itu, yang kutahu dari gereja adalah bahwa agama hanya satu, yakni agama kami. Maka pada detik setelah aku membaca itu, aku mulai meragukan agamaku.”
Hingga kemudian, Ali menemukan sebuah Alquran Terjemahan terbitan Departemen Agama milik seorang tentara. Ia membukanya secara acak dan menemukan terjemahan yang berbunyi “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanya Islam (QS. Ali ‘Imron: 19).” Ali pun tersentak.
Ketika di rumah, ia bermaksud mencari ayat serupa dalam Al-Kitab. Dua bulan membacanya, Ali tak menemukan kalimat dengan redaksi yang serupa dengan kalimat dalam Alquran yang dibacanya di barak. “Tak ada ayat yang mengatakan bahw aKristen adalah satu-satunya agama yang diterima di sisi Tuhan,” katanya.
Pada kesempatan lainnya, di surah yang sama pada ayat 85, Ali menemukan kalimat yang berbunyi “Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” Ali kembali menelusuri kalimat-kalimat Al-Kitab untuk menemukan kalimat serupa. Pencariannya kembali nihil.
Sebaliknya, ia justru menemukan ayat-ayat yang tidak sesuai dan bertolak belakang. “Seperti ayat yang menjelaskan tentang Yesus,” ujarnya. Sebagian ayat, kata Ali, menyebutnya sebagai anak Tuhan, sementara ayat yang lain menyebutnya anak Abraham.
Tak hanya kitab suci, Ali membaca buku Biologi untuk SMP. Membaca bab reproduksi, Ali dengan mudah menyimpulkan bahwa laki-laki tidak melahirkan. Doktrin bahwa Yesus adalah anak Tuhan pun mulai mengganggu logikanya. “Yesus tidak seharusnya dinasabkan pada Tuhan karena Tuhan tidak punya istri,” ia mendebat dalam hati.
“Atau, Tuhan itu perempuan? Jika ya, maka Ia adalah Maryam. Namun bukankah Maryam sudah mati? Lalu siapa yang mengatur alam semesta sejak ia mati? Dan jika memang manusia seperti Maryam layak dijadikan Tuhan, mengapa manusia tidak menuhankan Adam, manusia pertama di bumi?”
Semua pertanyaan krusial itu mendorong Ali untuk mendatangi seorang pastor berkebangsaan Filipina yang ditugaskan di Timor Timur. Olehnya, Ali dinasihati agar datang ke gereja jika ingin bertemu Tuhan. “Aku tidak membantah, namun juga tidak membenarkannya. Jika Tuhan yang ia maksud adalah patung Yesus dan Bunda Maria, itu bukan yang kucari,” katanya.
Pertanyaan dan pergulatan batin yang melelahkan itu membawa Ali pada keraguan yang semakin besar pada agamanya. Hingga pada suatu hari pada 1995, ia merasa harus mengakhirinya dengan sebuah keputusan memilih Islam. Kepada tentara yang menjelaskannya pengertian ‘jemaah’ dan ‘derajat,’ Ali menyampaikan keinginannya.
Tentu, berpindah agama bukanlah perkara ringan di Timor Timur yang dirundung konflik kala itu. Dan atas pertimbangan keamanan, tentara itu menjelaskan risiko yang mungkin dihadapi Ali jika ia meninggalkan agamanya dan menjadi Muslim. “Katanya, aku bisa diusir, dibuat cacat, bahkan dibunuh akibat keputusan itu. Ia memintaku memikirkan kembali keputusanku untuk memeluk Islam.”
Tak ingin membiarkan dirinya gamang berkepanjangan, Ali kembali mendatangi tentara yang sama untuk diislamkan. “Tahun 1996, tapi aku lupa tanggal dan bulannya,” ujarnya. Disaksikan oleh tiga orang tentara, Luis Monteiro bersyahadat. Di barak militer itu, ia resmi menjadi seorang Muslim.
Berbekal status mualaf, Luis Monteiro kembali gamang. Ia sadar, di lingkungannya, keislamannya tak mungkin berkembang. Ia pun memutuskan meninggalkan barak dan rumahnya menuju Dili. “Kepergianku yang tanpa sepengetahuan keluargaku dilepas oleh tentara yang mengislamkanku. Ia memelukku dan menangis,” tutur Ali.
Sampai di kota, ia menemukan sebuah yayasan Islam. Karena tak berbekal ijazah dan surat keterangan dari desa, Ali ditolak. “Meminta surat keterangan dari desa sama saja cari mati,” katanya. Ia pulang dan tak mampu berbuat banyak. Ali bahkan tak tahu bagaimana menjalankan shalat lima waktu yang telah menjadi kewajibannya.
Suatu hari, ia memutuskan kembali berangkat ke Dili dan mendatangi yayasan yang sama. “Aku memaksa pihak yayasan untuk mengizinkanku belajar di sana, meski aku tidak diizinkan mengikuti pendidikan formal.” Ali mendapatkan izin itu. Di sana, ia belajar shalat dan membaca Alquran.
Kesempatan itu tidak lama, karena pertolongan yang lebih besar dari Allah menghampirinya. Ustaz yang pernah menolaknya di yayasan tersebut mengantarkannya ke Jawa untuk mendalami Islam di sebuah pesantren di Jawa Timur. Keberangkatannya itu terjadi pada 1998.
Namun pertolongan besar itu terjadi setelah Allah terlebih dahulu menguji Ali. Setelah berhasil mengislamkan kedua orang tuanya pada 1997, ia harus kehilangan ayahnya yang tewas dibunuh orang-orang yang tidak suka dengan keislamannya.
“Beliau wafat pada hari Jumat di bulan Ramadhan,” ujar Ali seraya mengambil nafas panjang. Ia lalu menghentikan sejenak ceritanya. “Aku tidak akan pernah bisa melupakan itu.”
Pada kesempatan lainnya, Ali berhasil mengislamkan pula ketiga adiknya dan memboyong mereka ke Jawa. Salah seorang diantaranya kini tengah menempuh studi di Madinah. Ali sendiri memutuskan untuk mendalami Alquran di Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ).
Tahun ketiga di perguruan Alquran tersebut, Ali melengkapi studi Alqurannya dengan mendalami bahasa Arab di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) sejak 2010 hingga sekarang.
Kini, sambil terus memperdalam keislamannya, Ali membimbing sejumlah mualaf di pesantren khusus mualaf Yayasan An-Naba’ Center di Ciputat, Tangerang. Setelah menyelesaikan semua studinya nanti, Ali akan kembali ke Makasar dan bersama istrinya mengelola sebuah pesantren yang ia rintis bersama kakak iparnya.


kisah mualaf "Dawood Al-Brittani"

Kisah Gugurnya Mualaf Inggris dalam Perang Bosnia

dawood-al-brittaniKisahmuallaf.com – Dawood, begitulah pria asal Inggris tersebut mengganti namanya setelah memeluk Islam. Ia adalah mualaf yang gugur di medan jihad pada usianya yang sangat muda, 29 tahun. Namanya begitu populer setelah memutuskan diri untuk membela kaum Muslim dalam pertempuran melawan Pasukan Kroasia di Bosnia pada 1993.
Ia dibesarkan dalam keluarga kristen. Sejak kecil, ia didik dengan doktrin Kristen hingga menginjak dewasa. Setelah lulus kuliah, ia bekerja pada salah satu perusahaan Komputer di Inggris.
Hingga suatu pagi, Dawood mengagetkan semua orang di kantornya. Tiba-tiba saja, pagi itu ia muncul dengan cara berpakaian berbeda dari biasanya. Ia berpakaian layaknya Muslim di Timur Tengah.
Ternyata, Dawood telah menjadi seorang Muslim. Pakaian yang bernuansa Muslim itu pula yang membuatnya dipecat dari pekerjaannya.
Dawood muda kebingungan. Tidak hanya keluarga, tapi rekan-rekan ditempatnya bekerja juga menolaknya. Karena dia sudah menjadi seorang Muslim. Tak ada yang mau menerimanya ketika itu, selain saudara-saudaranya dari komunitas Muslim.
Ia memutuskan untuk berangkat ke Bosnia bersama dua orang rekan Muslimnya yang lain. Mereka bergabung bersama Muslim Bosnia dengan tujuan bisa hidup secara Islam dan ingin belajar ilmu-ilmu keislaman.
Empat bulan telah berlalu. Beberapa rekannya dari Inggris mengajaknya untuk pulang ke Inggris. Ia menolaknya. Akhirnya ia tetap menetap di Bosnia.
Ia seorang yang sangat cepat belajar ilmu-ilmu Islam. Dawood juga dengan cepat menguasai bahasa Arab. Teman-temannya bercerita bahwa ia adalah seorang Muslim yang taat dan teguh memelihara sunah. Ia termasuk sosok yang disayangi oleh teman-teman dan saudara-saudaranya sesama Muslim di Bosnia.
Ia tidak melewatkan untuk shalat malam, walau cuaca teramat sangat dingin. Bahkan ia sering berdoa sepanjang malam. Ia hanya tidur sebentar dengan posisi tidur meringkuk ke kanan.
Setelah beberapa waktu kemudian, ia bergabung dengan mujahidin Bosnia dibawah komando Abul Harith. Komandannya juga sangat menyayangi Dawood karena kasalehannya.
Malam sebelum Dawood gugur di medan pertempuran, ia sempat bermimpi. Dalam mimpi tersebut, ia berjalan di antara dua sisi istana yang sangat besar dan megah.
Ia sempat bertanya ” Siapakah pemilik Istana yang megah ini ?”
“Inilah milik salah seorang syuhada” begitulah jawaban dari mimpinya itu.
Dawood bertanya lagi, “Dimanakah istana milik Abu Ibrahim?” Abu Ibrahim adalah salah seorang teman dekat Dawood yang berkebangsaan Turki. Mereka dahulu bersama-sama datang dari Inggris. Abu Ibrahim ditembak mati oleh PBB Prancis didekat Bandara Sarajevo.
Suara dalam mimpi Dawood tersebut menjawab ” Istana Abu Ibrahim ada di sana”.
Dalam mimpi itu Dawood berlari menuju rumah teman dekatnya Abu Ibrahim. Dalam berlari itu ia terjatuh hingga ia bangun dari tidurnya kemudian menceritakan mimpinya.
Komandannya Abul Haristh sudah menduga bahwa Dawood mungkin akan gugur di medan pertempuran berikutnya setelah mendengar cerita mimpi Dawood. Mungkin saja ia akan segera menyusul sahabatnya Abu Ibrahim, karena ia ceritakan dalam mimpinya bahwa ia berlari menuju Istana Abu Ibrahim.
Keesokan harinya Dawood terlibat dalam sebuah operasi militer melawan Pasukan Kroasia. Dawood tertembak tepat di jantungnya dan tewas seketika. Ia berguling ke bawah bunker Kroasia yang mengakibatkan jasadnya tidak bisa diambil.
Setelah tiga bulan berikutnya, barulah jasad Dawood ditemukan oleh Pasukan Mujahidin. Diceritakan oleh Komandannya Abul Haritsh bahwa jasad Dawood saat ditemukan sudah berbau kesturi. Jasad tersebut ditemukan seperti posisi Dawood tertidur yaitu meringkuk menghadap ke kanan. Subhanallah…

kisah mualaf "Joshua Evans"

Injil Membimbingku pada Islam

Joshua Evanskisahmuallaf.comEvans tumbuh dengan didikan yang ketat, meski tanpa kedua orang tuanya. Tinggal dekat dengan gereja dan belajar di sekolah Kristen adalah dua hal yang membentuknya menjadi pendeta muda. Namun ia tak pernah menyangka, Injil justru membimbingnya pada perhentian yang lain, yakni Islam.
***
“Aku dibesarkan oleh kakek dan nenekku, di South Carolina (AS),” Evans mengawali ceritanya. Malam itu, 6 Februari 2009, ia diundang untuk berbicara di Masjid Omar Al Farouk, California. Ibunya meninggalkan rumah sejak Evans masih kecil, sedangkan ayahnya tinggal jauh darinya untuk bekerja. “Di rumah hanya ada aku dan dua orang penganut Kristen yang sangat konservatif (kakek dan nenek).”
Konservatisme, menurut Evans, tak menyulitkan kedua orang terdekatnya itu untuk membentuk dirinya. Sejak kecil, Evans telah terbiasa datang ke gereja pada Minggu pagi dan malam, ditambah Rabu. “Dan dalam Kristen, orang-orang seperti kami termasuk golongan sangat relijius,” katanya.
“Dari gereja, rumah kami hanya dibatasi oleh dua rumah lain,” Evans melanjutkan. Karenanya, ia tak pernah absen dari sekolah Minggu dan kegiatan Sabtu malam yang diadakan gereja.
Meski mengaku tak menyukai gereja—di mana ia harus diam, mendengarkan ceramah pastur, berdiri, lalu kembali duduk dan mendengarkan, Evans kecil menyukai sekolah Minggu. Ia senang mendengarkan cerita-cerita tentang nabi seperti Musa, Nuh, dan Ibrahim. “Cerita-cerita itu yang kupahami sebagai Kristen.”
Pada usia 12 hingga 14 tahun, Evans mengikuti layanan gereja setiap Sabtu malam, di mana ia bisa bermain basket, sepak bola, makan pizza dan kue bersama teman-teman sebayanya. Lalu, kegiatan itu diakhiri dengan ceramah 30 menit oleh seorang pendeta muda. “Usianya hanya tiga tahun lebih tua dariku. Ia berbicara tentang agama, Tuhan, dan banyak hal lain.”
Dari kegiatan-kegiatan gereja yang ia ikuti, Evans mulai menemukan keimanan terhadap agama tersebut. “Untuk pertama kalinya, aku beragama atas dasar keinginanku sendiri,” ujarnya.
Keimanan Evans semakin ‘aman’ ketika akhirnya ia melanjutkan ke sekolah tinggi yang disebutnya ‘sekolah Kristen paling konservatif’ di South Carolina, Bob Jones University. Di kampusnya, laki-laki dan perempuan harus mengenakan pakaian tertutup, dilarang berduaan dengan lawan jenis, dan tak ada pesta.
Di kampus itu, Evans berkawan akrab dengan seorang pendeta muda, yang kritis dan begitu ingin tahu banyak hal tentang Injil. “Karena kami tahu, Injil memiliki banyak versi,” katanya. Maka suatu hari, sang kawan mengajukan sebuah pertanyaan ringan yang tak pernah diduga Evans, “Apakah kamu pernah membaca Injil?”
Evans terdiam sejenak, lalu menjawab bahwa tentu ia pernah membacanya saat di gereja, ketika pastor menyuruh jamaat membaca ayat tertentu. Sang teman lalu mengajak Evan membacanya seperti membaca buku, dari bagian awal hingga akhir. “Jika Tuhan bisa berbicara dengan pastor melalui Injil, seharusnya dengan kita pun bisa,” Evan menirukan ucapan temannya.
“Itu ide yang sangat bagus, dan kami mulai membacanya,” kata Evans yang memulainya dengan membaca Kitab Perjanjian Lama. Di kitab itu, ia menemukan kisah-kisah nabi seperti pernah didengarkannya di sekolah Minggu. Namun ia segera dikejutkan beberapa bagian kisah yang justru menenggelamkan kemuliaan para utusan Tuhan tersebut, seperti menggambarkan nabi tertentu sebagai pecandu alkohol.
“Para nabi seharusnya adalah orang-orang mulia yang mampu menjadi teladan bagi umatnya,” Evans berontak. Merasa ada yang salah dengan kitabnya, ia mendatangi beberapa pastor. Dan ia kembali kecewa dengan jawaban para pastor itu. “Dengan jawaban yang sama dan normatif, mereka menasihatiku untuk tidak membiarkan ilmu pengetahuan meruntuhkan keimananku,” kata Evans. Ia juga diminta membaca Kitab Perjanjian Baru.
Meski tanpa penjelasan memuaskan, Evans menggarisbawahi satu pesan utama dari Kitab Perjanjian Lama yang baru ditamatkannya. “Tuhan itu Satu, dan Ia adalah Dzat yang Unik. Ia selalu iri soal pemujaan. Jika ada yang menyembah selain diri-Nya, Tuhan memberinya hukuman.”
Evans mulai membaca Kitab Perjanjian Baru. Kali ini, pertanyaan yang mengelilingi otaknya adalah mengenai mereka yang namanya disebutkan dalam Injil; Matthew (Matius), Luke (Lukas), John (Yohanes), dan Mark (Markus). Tak hanya itu, ia mulai mendalami ajaran Yesus melalui ucapan-ucapannya di dalam Injil. “Aku menangkap pesan yang sama (dengan yang ada di dalam Kitab Perjanjian Lama), Tuhan hanya satu,” katanya.
Pertanyaan-pertanyaan itu mengganggunya, dan memberinya sebuah keputusan. “Kutinggalkan Kristen.”
Baginya, tak perlu ada yang berdiri di antara dirinya dengan Tuhan. Ketika aku ingin meminta sesuatu dari-Nya, aku hanya perlu datang kepada-Nya,” kata Evans.
Ia mulai mencari agama, mempelajari Yahudi, Budha, Hindu, Thao, dan banyak lainnya. Dan setiap bertemu dengan pemeluk agama tertentu yang belum dipelajarinya, Evans selalu bertanya, “Apakah kamu punya sebuah kitab?”
Tak kunjung menemukan Tuhan, Evans menyerah dan marah. Menurutnya, Tuhan mempedulikannya. Sebagai pelampiasan, Evans mulai berpesta dan berteman alkohol, dua hal yang selalu dijauhinya.
Satu malam, pulang dari pesta, Evans selamat dari kecelakaan yang bisa saja merenggut nyawanya. Tiga bulan kemudian, ia kembali selamat dari peluru pistol yang ditodongkan padanya di sebuah mesin ATM. “Ucapan ibuku mulai membuatku berpikir, ‘Tuhan punya maksud di balik ini semua’.”
Sejauh itu, Evans tak mengenal Islam. Dan perkenalan pertamanya tak berlangsung baik. Saat melihat-lihat rak buku agama di kampusnya, Evans menemukan sebuah buku tentang Islam. Belakangan ia baru tahu bahwa buku itu hanya berisi propaganda negatif tentang Islam. “Ia menyebutkan banyak hal buruk, salah satunya adalah bahwa Islam membolehkan Muslim membunuh orang-orang non Muslim, kapanpun dan di manapun.”
Evans kembali bertemu Islam saat ia mengenal seorang Amerika-Afrika. Ketika Evans bertandang ke rumahnya, mereka berdebat tentang agama. Saat itulah Evans tahu bahwa ia berdiskusi dengan seorang Muslim. Diajaknya Evans ke masjid.
Joshua EvansDi masjid, Evans mendengarkan khutbah Jumat yang berbicara tentang pengampunan Allah. “Belakangan aku tahu, segalanya sengaja dipersiapkan bagiku. Temanku telah memberitahu sang imam tentang kedatanganku,” ujarnya, disambut tawa orang-orang yang menyimak ceritanya.
Terlepas dari itu, Evans tertarik dengan materi khutbah yang baru didengarkannya. Dan saat menyaksikan para Muslim melakukan gerakan ruku’ dan sujud, Evans tak mampu menutupi kekagumannya. “Itu lebih dari berdoa. Itu adalah menyembah, penuhanan yang sesungguhnya,” kata Evans.
Setelah shalat Jumat usai, Evans menghampiri sang imam dan bertanya, “Apakah kalian (Muslim) mempunyai sebuah kitab?”
Evans membaca kitab dari sang imam, surah demi surah. “Aku tahu nama-nama ini; Ibrahim, Musa, Daud, Zakariya, Isa. Tapi, ada yang berbeda tentang mereka dalam kitab ini,” teriaknya dalam hati. Alquran menggambarkan dan mengisahkan mereka sebagai orang-orang mulia yang harus diteladani umatnya.
Membaca kisah-kisah tentang Yesus, Evans semakin kagum. Menurutnya, Injil tak menjelaskan bagaimana Maryam menghadapi tuduhan yang ditujukan padanya, bagaimana Yesus yang masih bayi berbicara untuk membela ibunya.
“Ini kisah yang sangat indah. Siapapun pengikut kitab ini, aku ingin menjadi seperti mereka,” kata Evans.
Jumat berikutnya, Evans kembali mendatangi masjid tempatnya mendengarkan khutbah. “Bukan untuk menanyakan apakah mereka punya kitab yang lain,” katanya. “Aku datang untuk menerima Islam.”
“Desember 1998. Aku masih mengingatnya,” ujar Evans, tersenyum.


kisah mualaf "Ahmad Thomson"

Tak yakin dengan Gereja, Maka Aku Memeluk Islam

Ahmad Thomsonkisahmuallaf.com – Pria kelahiran Afrika ini dikenal sebagai pengacara terkemuka di Inggris. Ia juga mengetuai Wynne Chambers, badan hukum Islam yang didirikannya pada 1994.
Berislam 38 tahun lalu, Thomson meyakini cara terbaik mengamalkan ajaran Islam adalah memahami dan meneladani sumbernya, yakni Alquran dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. “Seperti pepatah yang mengatakan bahwa semakin dekat kita dengan sumber mata air, semakin murni air yang kita minum,” ujar pemilik nama kecil Martin Thomson itu.
Dilahirkan di Rhodesia Utara (sekarang Zambia), Ahmad Thomson menempuh pendidikan dasar serta menengahnya di Rhodesia Selatan (sekarang Zimbabwe).  Masa awal hidupnya ia lalui di daerah-daerah terpencil Afrika yang belum tersentuh peradaban modern kala itu; tanpa listrik, gas, dan saluran air bersih.
Lahir dan besar di Afrika, Thomson muda merasa tidak puas dengan ajaran Kristen. Ia mulai mempertanyakan banyak hal seperti, “Jika setiap manusia itu sama di hadapan Tuhan, lalu kenapa kaum Afrika kulit putih seperti dirinya harus beribadah di gereja yang berbeda dengan kaum kulit hitam?”
Pertanyaan lain yang kerap mengganggunya sebagai pemeluk Kristen adalah soal ketuhanan Yesus. “Jika Yesus adalah Tuhan, kepada siapa dahulu ia berdoa? Jika Yesus adalah Tuhan dan disalib, lalu siapa yang menghidupi surga dan dunia? Pertanyaan itu tak pernah terjawab selama aku memeluk ajaran Kristen,” ujarnya lulusan Exeter University, England.
Ahmad Thomson
Ketika berusia 12 tahun, Thomson sampai pada satu titik di mana ia mempercayai Tuhan dan Yesus. “Hanya saja,” katanya, “Aku tidak yakin dengan gereja.” Terhenti pada berbagai pertanyaan itu, Thomson mulai membaca apapun dan memikirkan kehidupan yang dijalaninya sejauh itu. Ia mengunjungi berbagai kelompok spiritual dan mencoba meditasi selama beberapa bulan. “Itu menenangkan, tapi sama sekali tak mengubah gaya hidupku.”
Hingga akhirnya, Thomson bertemu Syeikh Abdalqadir as-Sufi (tokoh Tarbiyah, penggagas Gerakan Dunia “Murabitun”). Pertemuan itu menjadi awal perkenalannya dengan Islam, agama yang tak pernah terpikirkan oleh Thomson sebelumnya.
Saat berbicara dengan Syeikh Abdalqadir dan mendengarkan berbagai hal yang disampaikannya, Thomson merasa telah menemukan jalan menuju transformasi yang ia butuhkan. “Sejak itu, perlahan aku menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang memenuhi otakku,” katanya. Thomson rutin mengunjungi pusat kajian Islam Syeikh Abdalqadir setelah itu. Ia juga membaca The Book of Stranger yang ditulis sang Syeikh.
Thomson mantap mengakhiri pencariannya pada 13 Agustus 1973. Ia mengikrarkan syahadat di hadapan Raja Mahmudabad, dan berhaji empat tahun kemudian. Pulang dari haji, Thomson menyelesaikan pelatihannya sebagai pengacara. Lalu, pada 26 Juli 1979, ia dipanggil ke Pengadilan England & Wales dan mulai meniti kariernya di bidang advokasi serta hukum Islam.
Thomson pertama kali memperoleh perhatian publik pada 2001, saat tampil dalam sebuah film dokumenter berjudul “My Name is Ahmed” yang memenangkan sebuah penghargaan, dan juga Prince Naseem’s Guide to Islam. Keduanya ditayangkan di BBC2 pada Agustus 2001. Setelah itu, wajahnya kerap mewarnai layar kaca dalam berbagai program, terutama program-program Islam.
Tahun 2002, Thomson membuat pernyataan lisan dan tertulis kepada majelis pemimpin Komite Pelanggaran Agama. Ia menegaskan bahwa kelompok-kelompok agama seperti Yahudi, Kristen, Muslim, Hindu, Budha, dan Sikh harus memperoleh hak dan perlindungan yang sama di bawah hukum Inggris.
Di antara aktivitas yang dijalaninya kini adalah memberikan ceramah rutin tentang Islam di berbagai wilayah Inggris. Ia juga menulis secara teratur untuk Al-Karam Journal dan menjadi salah seorang kontributor tetap dalam konferensi lintasagama yang digelar setiap tahun di Masjid Regents Park dan Pusat Kebudayaan Islam Inggris.

kisah mualaf "Philippe Senderos"


Philippe Sanderoskisahmuallaf.com – Pesepakbola asal Swiss yang saat ini bermain sebagai bek di klub Liga Premier Inggris, Fulham, Philippe Senderos memutuskan untuk memeluk Islam.
Ia menyatakan telah menjadi mualaf di sebuah pusat agama Islam di Manchester Inggris, Rabu (20/6) lalu.
Philippe Senderos sebelumnya pernah bermain untuk Arsenal, AC Milan dan Everton. Saat ini ia didaulat untuk memperkuat tim nasional Swiss.
Philippe merupakan lulusan teologi, ia dilaporkan menunjukan banyak minat pada agama-agama di dunia. Di luar kegiatannya sebagai atlet sepakbola, ia banyak membaca dan mempelajari berbagai hal tentang agama.
“Saya sangat tertarik pada agama-agama di dunia,” kata Senderos seperti dikutip Press TV.
Senderos mengaku menemui manfaat dan pedoman dalam Islam. Oleh karenanya ia memutuskan memilih menjadi seorang Muslim.
“Jika saya tak bermain sepakbola mungkin saya akan menjadi seorang imam,” kata dia.
Berikut gambar Phillipe Senderos, kanan, seperti dimuat di laman Press TV:
Philippe Sanderson

kisah mualaf "Jason Cruz"


kisahmuallaf.com – “Alhamdulillah, saya mendapatkan hidayah Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan masuk Islam sejak tahun 2006,” ujar Jazon Cruz, mengawali pembicaraan.
“Saya sebenarnya agak ragu, ketika diminta berkisah tentang jalan hidup yang saya tempuh, dan bagaimana saya mendapatkan hidayah Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” sambungnya.
Wajar saja. Sebab, Cruz tak mau terjebak pada ketenaran semu sebagaimana yang terjadi pada sebagian orang, hanya karena mereka masuk Islam. Ia juga sadar, dirinya memiliki tantangan yang serupa. Apalagi mengingat statusnya sebagai seorang pendeta cukup kenamaan di kotanya.
“Namun, sekali lagi saya katakan, semoga saya tidak terjebak pada sikap riya karena memeluk agama yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ini. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala, menjauhkan sifat itu dari diri saya,” harapnya.
Oleh sebab itu, ketika dimintai laman www.islamreligion.com untuk menuturkan perjalanan hidupnya. Cruz meminta agar penekanan kisah hidupnya fokus pada ‘kerja’ Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah memberinya sejumput hidayah. “Sebab, siapa pun takkan mungkin masuk Islam dan tulus mengikuti ajaran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, jika ia tidak mendapat hidayah Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” ujarnya.
Jason Cruz lahir dalam keluarga Katolik Roma yang secara resmi tinggal di New York, AS. Sebenarnya, sang ibulah yang murni Katolik Roma. Sedangkan ayahnya seorang Presbiterian yang ‘terpaksa’ masuk Katolik hanya agar dapat menikahi sang bunda. “Kami selalu ke gereja tiap hari Minggu. Saya juga menjalani katekismus, komuni pertama, dan konfirmasi di Gereja Katolik Roma,” tuturnya.
Ketika masih belia, Cruz sudah merasa mendapat panggilan Tuhan. Panggilan ini ia tafsirkan sebagai panggilan imamat Katolik Roma. Ia pun mengungkapkannya pada sang bunda, “Ibu sangat bahagia mendengarnya, dan langsung mengajak saya untuk bertemu pastor di paroki setempat,” ungkapnya.
Sayangnya, si pastor tak terlalu senang diusik oleh kedatangan mereka. Ia bahkan menyarankan agar si bocah tidak terjun ke dunia imamat. Hal itu membuat Cruz sangat sedih. “Kejadian itu sangat menjengkelkan saya, bahkan hingga hari ini. Saya tak tahu bagaimana kondisinya akan berbeda, jika saja responsnya sedikit positif,” kata dia.
Sejak ditolak memenuhi seruan Tuhan di paroki tersebut, Cruz menjalani kehidupan yang lain; tenggelam dalam dunia malam. Apalagi, tak lama setelah kejadian di paroki, kedua orang tuanya bercerai. Cruz sangat kehilangan sosok ayah yang tak lagi hadir di dekatnya.
Sejak usia 15 tahunan, Cruz mulai lebih tertarik dengan klub malam ketimbang Tuhan.
Usai lulus SMA dengan nilai yang memuaskan, ia pun masuk universitas dengan mudah. Namun, karena targetnya hidupnya yang tak jelas dan tak menentu, Cruz pun drop out (DO) dari bangku kuliah.
Ia kemudian pindah ke Arizona—tempatnya menetap hingga kini—ketimbang menyelesaikan kuliah dan meraih gelar sarjana. “Inilah yang saya sesalkan hingga kini,” ujar Cruz. “Setelah tinggal di Arizona, kehidupannya saya malah jadi kian parah.”
Ia mulai mengenal narkoba dan kian tenggelam dalam dunia malam dan pergaulan bebas. Demi mendapatkan obat-obat terlarang—dengan pendidikan yang pas-pasan, Cruz rela menjalani pekerjaan kasar dan hina. “Kalau tidak begitu, saya tidak dapat menikmati narkoba, pergaulan bebas, dan dunia malam,” ujarnya.
Selama masa-masa kelam ini, Cruz sempat bertemu dan bergaul dengan orang Muslim. Si Muslim rupanya seorang mahasiswa asing yang kuliah di salah satu kampus di Arizona. “Dia mengencani salah seorang teman saya, dan kerap menemani kami ke pesta dan klub-klub malam,” ungkapnya.
Cruz dan si Muslim memang tidak pernah bicara soal agama, apalagi tentang Islam. Namun demikian, ia kerap bertanya tentang ajaran dan budaya Islam kepada si Muslim. Si Muslim dengan senang hati menceramahi Cruz tentang Islam, walau yang bersangkutan tidak menunjukkan diri sebagai Muslim sejati. “Apa yang dia katakan, sangat berbeda dengan apa yang ia lakukan,” kata Cruz.
Gaya hidup Cruz yang buruk berlanjut selama beberapa tahun. Ia pun sempat trauma, karena beberapa orang yang dikenalnya meninggal. Ia juga pernah ditikam dalam sebuah tawuran.
“Yang dapat saya katakan adalah walau bagaimana pun buruknya kondisi yang anda alami, Allah Subhanahu Wa Ta’ala pasti akan membalikkan keadaan anda, insya Allah,” kata dia. Saya segera berubah setelah benar-benar bersih dari narkoba. Salah satu bagian proses menjauhkan diri dari narkoba adalah dengan menjalin hubungan dengan yang Mahakuasa.”
Dalam upaya pencarian akan Tuhan ini, Cruz melewati sejumlah tahapan berliku sebelum mengenal Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sayang, ia tidak menemukan kebenaran (Allah Subhanahu Wa Ta’ala) pada awalnya. Sebaliknya, ia mencoba mempelajari Hinduisme karena dianggap dapat mengakhiri penderitaan yang ia alami.
Cruz begitu serius mendalami ajaran Hindu. Ia bahkan mengubah namanya dengan nama Hindu.
“Saat itu aku merasa terbebas dari kecanduan obat-obatan. Hidupku lebih positif. Tapi itu tidak bertahan lama, Allah Subhanahu Wa Ta’ala menunjukan padaku bahwa Hindu bukanlah jalan menuju kebenaran hakiki,” kenang dia.
Meninggalkan ajaran Hindu, Cruz kembali pada agama Katolik Roma. Oleh gereja, ia ditawarkan untuk menjadi menetap di sebuah gereja di New Mexico. Bertepatan dengan tawaran itu, keluarganya—Ibu, kakak dan adiknya—memutuskan untuk pindah ke Arizona. Saat itu, ia mulai memiliki hubungan dekat dengan orang banyak.
Cruz pun mulai menjalani program seminari. Bertahun-tahun ia ikuti pogram tersebut sehingga akhirnya berhasil menjadi pastor. Ia ditugaskan gereja untuk mempelajari tradisi agama lain di daerah Metro Phoenix. “Peran baru saya adalah menjalin hubungan antaragama,” kata dia.
Sembari menjalankan tugasnya itu, Cruz juga menyambi sebagai pekerja di Biro Kesehatan Perilaku. Ia kunjungi sejumlah tempat ibadah agama lain, termasuk masjid. Dalam kunjungannya ke masjid, Cruz merasa ada kesempatan emas untuk belajar tentang Islam. Oleh seorang Muslim, ia diminta untuk mendatangi Masjid di Tempe, Arizona.
Sesampainya di masjid itu, Cruz segera membaca buku-buku tentang Islam. Setelah membaca, ia begitu terkejut. “Saya belum tahu, kalau rasa terkejutku itu merupakan bentuk hidayah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Saya pun kembali mengunjungi masjid itu dan banyak berdialog dengan Imam Ahmad Al-Akoum,” tuturnya.
Al-Akoum, adalah Direktur Regional Masyarakat Muslim Amerika. Ia seorang yang begitu terbuka bagi penganut agama lain untuk berdiskusi tentang Islam. Banyak warga AS yang mencari informasi tentang Islam dari Al-Akoum. “Mengikuti kelas bimbingan Akoum, saya melihat Islam adalah kebenaran hakiki. Beberapa waktu kemudian, saya mengucapkan dua kalimat syahadat di masjid yang sering saya kunjungi, Alhamdulillah,” kata dia.
Menjadi Muslim, Cruz banyak mengalami perubahan. Keluarganya sedih, sebab Cruz memeluk agama yang ditakuti anak-anaknya. Ia pun berusaha memberikan pemahaman yang baik tentang Islam kepada mereka.
Tidak mudah memang bagi Cruz untuk menjalani identitas barunya sebagai Muslim. Ia sempat mengalami stres, lalu memutuskan untuk kembali berdiskusi dengan Al-Akoum tentang masalah yang dialaminya. “Al-Akoum mengatakan padaku bahwa tahun pertama sebagai Muslim tentu merupakan masa yang paling sulit. Ia lalu menyarankan untuk banyak berkomunikasi dengan Muslim lainnya,” kata dia.
Benar saja, saran Al-Akoum itu membuat iman Cruz semakin mantap. Ia mulai mendapatkan pekerjaan, yakni sebagai manajer pada sebuah program pencegahan penyalahgunaan alkohol dan narkoba, serta HIV dan hepatitis untuk populasi berisiko.
Selama itu pula, Cruz mulai menikmati identitasnya sebagai Muslim. Ia sangat aktif menjadi sukarelawan. Bahkan, ia dinominasikan menjadi kepala Dewan Masjid Tempe. “Insya Allah, jika Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengizinkan, saya ingin mendalami ilmu fikih guna memajukan kepentingan Islam dan umat yang saya cintai. Semua ini adalah karunia Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” pungkasnya